Visitor

Thursday, February 7, 2013

Hotman Paris, Ruhut, Parbada dan Stereotip Karakter Orang Batak

“Jangan sembarang ngomong kau!,” kata Hotman Paris dengan nada berteriak mendengar sindiran-sindiran yang diberikan Ruhut padanya.   
“Eh Diam kau!”, kata  Ruhut juga dengan nada teriak.  
“Kau yang diam, anak dan istrimu gak kau urus”, sambung  Hotman Paris dengan setengah berdiri.
“Eh, kau saja diam, sudah putus sama Meriam belina, patah hati kau yah, gak malu kau, bawa-bawa Meriam Belina “, Kata Ruhut tidak mau kalah.
“Ayo ketemu diluar saja, kau dan saya”, kata Hotman menantang.
Aku 30 tahun jadi lawyer”, kata Ruhut.
“Masak? Kantormu dimana, kok gak ada klienmu”, jawab Hotman.

Itu kira-kira sebagian pertengkaran terbuka yang saya tangkap dalam live show di TV One, Indonesian Lawyers Club, Selasa 13 Maret lalu. Salah satu resiko live show memang ketiadaan sensor. Apa yang sudah terjadi tidak dapat diperbaiki. Sebelum acara itu kedua pesohor ini memang sudah sering saling tuding, saling sindir, saling ejek, saling maki di arena publik. Kalau mereka berantem kelihatannya rating sebuah acara malah naik. Kita bisa terkekeh-kekeh menontonnya. Apalagi kalau anda orang batak, anda bisa merasakan “sense” lucunya. Misalnya, ketika salah seorang dari mereka meng-claim dirinya sebagai keturunan raja. Itu luar biasa lucu, karna itu bisa membuat orang non batak berpikir  "raja" yang dimaksud adalah raja yang memiliki wilayah kekuasaan seperti sultan keraton Jogja.

Dalam bahasa batak, karakter kedua abang Lawyer pesohor itu  digambarkan orang batak sebagai “PARBADA”; kira-kira artinya “si tukang berantem”, atau “si pembuat keributan”.  Biasanya orang batak sering menggambarkan orang yang tidak bisa ditengahi keributannya, atau orang yang selalu cari keributan dengan kalimat sarkastik seperti: “dasar parbada kau!”  kira-kira artinya “dasar tukang berantem kau.  Keributan Hotman Paris dan Ruhut termasuk keributan konyol yang tidak dapat ditengahi, karena keduanya kelihatannya tidak malu-malu lagi ribut dimuka umum.  Orang batak sendiri (minimum kata ibu saya yang mewakili generasi opung-opung) menganggap bahwa orang-orang yang ribut seperti itu biasanya hanya dilakukan oleh kaum mamak-mamak yang oleh orang batak urban sering digambarkan dengan kalimat sinis: “seperti inang-inang pasar inpres”. Itu sindiran untuk menggambarkan kekasaran, keberanian, histerikal, tidak berpendidikan cukup dan kelas (baca: kasta) pedagang. 

Frasa-frasa sarkastik tentang karakter “parbada” itu sebenarnya menunjukkan bahwa orang batak ingin keluar dari stereotip negatif tersebut. Kadang keinginan keluar dari stereotip itu, bagian terburuknya adalah ketika seorang batak memilih meninggalkan “atribut” atau identitas “ke-batak-an”nya.  Orang-orang seperti ini juga ditertawakan orang batak lain dengan gambaran lucu: “sudah tidak kentara lagi bataknya, sampai tidak ngaku batak lagi dia! Sudah dirasakannya rupanya mandi dengan air PAM” (kalimat sinis ini harus diucapkan dengan logat batak kental baru lucu). Banyak orang batak sering khawatir terasosiasi dengan karakter “parbada” itu. Bahkan saya tahu ada orang batak, yang ingin mengganti namanya karna terdengar sangat  batak. Ada-ada saja.

Saya mungkin keliru, tapi belum pernah saya melihat pesohor dari suku lain mempertontonkan live pertunjukan pertengkaran sebrutal itu di acara TV yang konon ratingnya sangat tinggi itu. Saat acara masih berlangsung, saya dihujani BBM oleh teman-teman saya: “Woi liat sodara lu tuh 2 batak si hotman sama ruhut lagi ribut di TVONE”; ada lagi yang berkata: “gile dah saudara lo tuh gak tau malu, orang kaya kok kayak orang kampung berantem di TV ONE!”.  Mengapa teman-teman saya dari suku lain menyebut mereka saudara saya, walaupun saya secara pribadi tidak mengenal keduanya?  Tentu karena banyak orang mengerti bahwa sistem kekerabatan orang batak yang  luar biasa kental dan erat itu biasanya membuat orang batak tidak ribut secara terbuka, brutal, membuka aib-aib mereka. Orang batak memang sering dianggap berani berantem, tetapi ikatan "abstrak" rasa hormat diantara marga-marga dan klan biasanya mampu menghalangi sebuah keributan  brutal. Apalagi, kedua abang itu (konon) mewakili sosok "orang batak urban yang modern, intelek, educated dan kaya".

Sistem kekerabatan orang batak yang erat dapat saya gambarkan dengan beberapa contoh berikut. Ketika saya kuliah 24 tahun yang lalu, segerombolan penodong di Grogol, membatalkan niat mereka, hanya karena ketika salah satu penodong meminta tas dan jam saya dengan gertakan, saya mengenali wajah batak dan logat batak si penggertak dan saya spontan membentak keempat penodong itu dengan mengatakan; “bang, aku ni boru sinaga tahu!!”.  Cerita lain, beberapa tahun yang silam ketika saya di New York City, saya bertemu dengan seorang pengemudi Taxi yang sedang saya tumpangi, yang ternyata orang batak, hanya dengan berawal dari pertanyaan, “where do you come from miss?” dan saya mengenali tone batak di bahasa Inggrisnya yang cukup bagus itu. Kontan saja selama di New York orang itu lah yang saya minta bantuan macam-macam. Orang batak akan spontan menghubung-hubungkan persaudaraan mereka dari nenek moyang mereka, jika bertemu orang batak yang baru dikenalnya.  Itu lah keunikan sistem kekerabatan orang batak dan banyak orang batak  masih membanggakannya.

Beberapa tahun lalu saya menulis tentang bagaimana orang batak sering terperangkap dalam satu stereotip tertentu, sehingga generalisir tentang karakter orang batak terbentuk dalam suatu konotasi negatif yang membuat generasi muda orang batak sering menyembunyikan identitas batak mereka. Stereotip negatif itu juga membuat kaum muda batak malu menampilkan marga mereka. Tulisan saya itu berjudul: “Jika Anda Orang Batak Katakan Pada Anak-Anak Anda Dia Orang Batak",   http://tika-sinaga.blogspot.com/2012/01/jika-anda-orang-batak-katakan-pada-anak.html

Saya katakan dalam tulisan itu, “Menjadi orang Batak berarti terperangkap dalam konotasi negatif stereotype yang terbentuk lewat penggambaran karakter yang kasar, keras, tempered, agresif, tukang-berantem, nyali preman, gaya bicara teriak-teriak, volume suara keras, belum lagi stereotype fisik rahang bersegi, mata tajam, tubuh lebih sering tebal dan profesi yang dihubungkan dengan pencopet, supir metromini ugal-ugalan, preman, petinju kasar, pecatur suntuk, inang-inang pedagang Pasar Inpres Senen, atau penyelundup Tanjung Periuk”.

Kalau anda baca tulisan saya itu, anda pasti menangkap kerinduan saya untuk mengembalikan lagi rasa bangga orang batak lewat anak-anak mereka, generasi-generasi baru orang batak  dan menghilangkan stereotip negatif karakter orang batak yang sudah begitu menempel  pada orang batak selama beratus tahun. Tulisan itu sudah dibaca oleh ribuan orang dan terforward  di puluhan mungkin ratusan situs dan saya telah menerima ratusan email  (sampai hari ini)  dari orang-orang batak di seluruh dunia yang ternyata memiliki pemikiran yang sama mengenai stereotip karakter itu.

Bang Hotman Paris Hutapea dan Bang Ruhut Sitompul, sama seperti saya dan banyak orang batak, tahu betul bahwa kami bertanggung jawab menjaga citra baik orang batak dan menghilangkan stereotipe negatif karakter orang batak sebagai “PARBADA” itu.

=================================
Referensi konsep raja di etnis batak;
1. http://tika-sinaga.blogspot.com/2007/01/di-kerajaan-batak-banyak-taik-kerbau.html
2. http://tika-sinaga.blogspot.com/2009/01/boru-raja-sebuah-konsep-priyayi.html

Wednesday, January 23, 2013

"Jangan Panggil Baby Sitter Anda Suster Ya”

Seorang teman lama, yang kebetulan Kepala Perawat di salah satu Rumah Sakit di Bandung pernah menyatakan keberatannya atas panggilan “suster” yang dipakai oleh teman kami untuk baby sitter anaknya. Teman ini adalah seorang Sarjana Keperawatan yang dengan susah payah bersekolah dan bekerja lebih dari 25 tahun untuk mendapatkan jabatannya sebagai Kepala Perawat.

Panggilan “SUSTER” sering kita dengar diberikan kepada para Pekerja Rumah Tangga (PRT) atau terminologi kerennya domestic worker, yang khusus mengasuh bayi/balita atau orang tua pada masyarakat kelas menengah-atas. Masalah keliru bahasa lagi atau keliru budaya ini

Satu tahun terakhir kami mempekerjakan seorang pekerja yang khusus membantu Ibu saya yang sudah berusia 79 dan mengalami osteporosis sehingga kegiatannya sehari-hari baik di rumah maupun kegiatan-kegiatan sosialnya di gereja atau ke perkumpulan/pesta batak, akan dibantu oleh si Pekerja itu. Si Pekerja ini, seorang perempuan muda asal Tegal, berusia 26 tahun, pernah bekerja 3 tahun sebagai TKW, bergaji UMR dengan hak cuti sekali dalam sebulan yang dapat ia ganti dengan sejumlah uang jika tidak diambilnya. Hera namanya. Dia lulus SMP dan sama sekali jauh dari kata “capable”. Saya harus mengajarinya dari dasar masalah higienis, memasak menu-menu rendah kalori, mempersiapkan obat dan vitamin ibu saya, serta mengajarinya untuk gesit dan responsif. Kemanapun Ibu saya pergi Hera selalu ada mendampinginya lengkap dengan seragam baju putih, celana panjang putih dan sepatu putih yang disediakan Yayasan yang menyalurkannya.

Hebatnya, meskipun wajahnya sangat lugu seperti kebanyakan “mbak-mbak”, kemanapun dia pergi, orang akan memanggilnya “Suster’. Luar biasa kan? Kalau kebetulan ada saya, saya akan meralatnya dan pasti meminta siapapun untuk memanggil dia “mbak”, “dik” atau Hera. Lebih hebatnya lagi yang memanggil dia “suster” bukan kelas tukang bajaj atau tukang sayur yang lewat depan rumah saja, tapi juga ibu-ibu bersanggul tinggi dengan berlian sebesar jengkol di telinganya, di manapun ibu saya berada, di tempat pesta atau di gereja.

Kata “SUSTER” sebenarnya berasal dari bahasa Belanda, yakni “Zuster”, yang artinya adalah “mbak”, “saudara perempuan’, “kak”, “cik”, dll. Sampai era 80-an orang-orang dari seberang lautan sana yang agak ke-belanda-belandaan sering memanggil perempuan dengan kata “ZUS” atau terdengar di telinga kita “Ses”. Kata SUSTER itu kemudian menjadi panggilan yang digunakan bagi perawat di Rumah Sakit dan juga bagi biarawati Katolik.

Entah kapan awalnya, belakangan muncul perempuan-perempuan lulusan SD/SMP/sedikit dari mereka SMA yang oleh penyalur Pekerja Rumah Tangga diberi seragam putih, dengan tugas mengasuh bayi/balita (BABY SITTER) atau orang tua (HELPER), dan dikasih gelar “SUSTER”. Kadang para pekerja ini memang mendapatkan pelatihan sebagai Baby Sitter. Awalnya mungkin Yayasan Penyalur tersebut ingin membedakan "klasifikasi" atau "kelas" mereka dengan Pekerja Rumah Tangga biasa (Lho, kan seragam, gaqji dan jenis pekerjaannyanya sudah membedakan?”). Yang agak aneh adalah (saya tidak mau menyebutnya “tolol”), para majikan ini lebih suka memanggil para pekerja ini “SUSTER”, seolah kata “mbak” atau “dik”, tidak cukup “afdol” atau tidak cukup “terhormat” untuk digunakan sebagai panggilan terhadap para baby sitter dan PRT khusus orang tua ini. Siapa sih yang memulai panggilan “SUSTER” kepada para baby sitter itu? Majikan atau yayasan?

Sayangnya saya bukan ahli sociolinguistic yang dapat menjabarkan fenomena apa yang sebenarnya sedang terjadi di masyarakat kita yang hidup dalam tatanan “kelas” dan “kasta” ini. Bahkan sub-kasta, karna jika anda punya 3 orang Pekerja Rumah Tangga di rumah anda, yang satu dipanggil suster, yang lain "mbak" bukankah itu pengkelasan? Tetapi secara logika sederhana saja, makna kata seyogyanya harus dilihat juga dari “penutur asli”nya dan asal bahasa dari kata tersebut.

Jadi kalau di depan saya, jangan anda panggil baby sitter anak anda dengan “suster”lho yaaaaaa....

Sunday, January 20, 2013

Semua Dapat Diatasi Oleh Bank Mandiri

Tidak dapat dipungkiri lagi, perkembangan jaman mengakibatkan terjadinya perubahan peran perempuan di dalam keluarga dan  masyarakat.  Adalah hal yang lumrah jika perempuan memilih untuk mengejar karir mereka atau memilih untuk berperan ganda, yakni sebagai istri dan ibu yang melayani keluarganya, sekaligus sebagai wanita karir atau pekerja yang  membantu meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan keluarga. Tidak sedikit dari mereka bahkan yang menjadi tulang punggung keluarga. Kualitas anak-anak dalam tiap keluarga Indonesia sangat dipengaruhi  oleh bagaimana perempuan dalam posisinya sebagai ibu berperan dalam keluarga. Banyak pekerja perempuan di Indonesia dewasa ini adalah pemimpin perusahaan  yang handal dan  pembuat keputusan-keputusan besar di tempat mereka bekerja.

Jadi jika anda seorang wanita karir atau wanita pekerja biasa yang juga merangkap sebagai istri dan Ibu yang melayani keluarga, anda pasti harus memiliki kemampuan manajerial  yang baik agar semua pekerjaan anda di kantor dan tugas-tugas anda di rumah dapat terkendalikan dengan baik, tanpa mengurangi kualitas hidup yang anda dan keluarga jalani . Manajemen waktu adalah satu dari sekian banyak masalah krusial bagi orang-orang seperti anda. Apapun pekerjaan anda, keputusan anda dalam memilih Bank yang tepat yang dapat mendukung anda dalam mengendalikan semua kegiatan perbankan anda akan memegang peranan amat penting.

Bank Mandiri memiliki semua yang anda perlukan itu.

Lalu bagaimana sebuah bank dapat membuat kegiatan-kegiatan padat anda sehari-hari dapat dijalankan dengan lebih efisien dan efektif?  Bagaimana Bank Mandiri dapat mendukung peran ganda anda (sebagai Ibu tumah tangga sekaligus wanita karir/wanita pekerja), dengan fungsinya sebagai pihak yang membantu anda mengelola keuangan, dan bukan sekedar tempat menyimpan tabungan anda?

Mulailah dengan membuka rekening tabungan anda di Mandiri Tabungan. Sebagai nasabah Mandiri Tabungan, anda akan memiliki akses 24 jam per hari  melalui Mandiri SMS, Mandiri Internet dan Mandiri Call untuk melakukan kegiatan transaksi apapun ke seluruh dunia dalam hitungan menit bahkan detik, dari mulai hal-hal rutin seperti pembayaran-pembayaran keperluan rumah tangga anda hingga transaksi-transaksi tidak rutin seperti pembelian ticket pesawat, pembayaran pajak, premi asuransi, serta berbagai macam cicilan anda.  Kartu ATM yang anda peroleh sebagai nasabah Mandiri Tabungan juga berfungsi sebagai kartu debit yang dapat anda pergunakan untuk melakukan pembayaran di tempat-tempat berlogo VISA baik di dalam maupun di luar negeri. Jika anda banyak melakukan perjalanan dinas ke luar kota atau luar negri, kartu ATM anda akan mempermudah segala transaksi yang anda lakukan karena kartu tersebut  terhubungan dengan lebih dari 8.996 ATM Mandiri, 26.000 ATM Bersama, 23.602 ATM LINK, 31.700 ATM Prima, belum termasuk akses pembayaran dengan fungsinya sebagai kartu debit di lebih dari 22 juta merchant berlogo VISA di seluruh dunia. Amazing, kan?

Selain tabungan biasa, ada Mandiri Tabungan Rencana yang dapat anda pilih sebagai wujud lain dari sebuah tanggung jawab bagi keluarga anda, karena tabungan dengan sistem setoran wajib bulanan ini memberikan ekstra perlindungan asuransi untuk anda dan keluarga anda.  Tabungan unik ini tersedia dalam valuta Rupiah dan US Dollar dan dirancang agar keinginan anda di masa depan dapat terwujud, tanpa halangan apapun. Jadi jika tiba-tiba anda menghadapi suatu keadaan tertentu seperti meninggal dunia atau ketidakmampuan total tetap karena sakit atau kecelakaan hebat  misalnya, maka pihak asuransi akan tetap meneruskan penyetoran wajib bulanan anda hingga pada periode tertentu  dan semua yang anda rencanakan melalui tabungan ini akan tetap terrealisasi.

Sering kali kita mendadak memerlukan sejumlah uang tertentu untuk melakukan hal-hal khusus seperti memperbaiki rumah misalnya. Keperluan dana mendadak seperti itu  tentu memerlukan penanganan cepat dan itu dapat anda peroleh melalui Mandiri KTA, yang memungkinkan anda memperoleh pinjaman tanpa agunan sampai dengan Rp. 200 juta dengan cicilan ringan, jangka waktu dalam 5 pilihan, serta perlindungan asuransi jiwa.

Apa mimpi anda dan keluarga terbesar dalam hidup yang belum tercapai? Mimpi hampir setiap keluarga di Indonesia adalah memiliki rumah idaman. Di Bank Mandiri ada Mandiri KPR yang akan mewujudkan mimpi anda dan keluarga untuk memiliki rumah idaman itu dengan kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh Bank Mandiri sesuai dengan  kemampuan keuangan dan income  anda.  Kemudahan-kemudahan itu diantaranya adalah suku bunganya yang kompetitif, proses yang cepat dan mudah, uang muka yang disesuaikan dengan pendapatan anda, jangka waktu fleksibel s/d 15 tahun, serta kesempatan untuk memilih lebih dari 350 proyek pengembang perumahan di seluruh Indonesia yang bekerja sama dengan Bank Mandiri

Dan yang tak kalah penting adalah Mandiri Kartu Kredit. Kartu Kredit pada dasarnya bukan sekedar merupakan alat pembayaran melainkan suatu "alat" yang dapat membantu anda melakukan perencanaan matang mengenai barang-barang yang anda beli dengan memilih merchant-merchant yang memberikan keringanan cicilan, termasuk merencanakan liburan bersama keluarga yang dapat dicicil dengan cara yang dapat anda tentukan sendiri. Kartu Kredit dari Bank Mandiri anda juga dapat melakukan auto debit untuk berbagai pengeluaran rutin rumah tangga anda, sehingga setiap bulan anda tidak perlu dipusingkan dengan harus mengingat tanggal-tanggal jatuh tempo untuk pembayaran-pembayaran rutin seperti listrik, air, internet dan TV berlangganan, asuransi dsb.

Itu hanya sebagian dari berbagai produk Bank Mandiri yang dapat anda telusuri di www.bankmandiri.co.id, selain produk-produk lain yang berhubungan dengan investasi yang juga pasti akan anda perlukan kelak.

Dengan satu bank yang tepat untuk mengendalikan seluruh kegiatan perbankan anda, anda dapat lebih berkosentrasi menyelesaikan hal-hal lain yang membutuhkan perhatian lebih anda.

Menurut anda tidak kah Bank Mandiri memang dapat menjadi manajer keuangan pribadi anda?




Friday, December 28, 2012

Siapa “Agent of Information” dalam Proses Edukasi HIV/AIDS?

Secerdas apapun anda, setinggi apapun pendidikan anda, ketika suatu hari salah seorang teman lama anda tiba-tiba berkata kepada anda: “aku hanya mau bilang kalau aku sebenarnya gay dan 2 tahun terakhir aku positif HIV“, semua orang, saya jamin akan melewati apa yang saya alami.

Tiga puluh menit pertama biasanya anda, seperti juga saya waktu itu, akan diam saja terpaku, mencoba mendengarkan penjelasannya dan berpura-pura untuk tidak tampak terlalu terkejut, mungkin agak menyeringai sedikit, sambil mengingat-ngingat artikel terakhir yang anda pernah baca mengenai bagaimana cara penularan orang dengan HIV itu. Lalu, seperti saya, dalam sekejap anda juga pasti akan menjadi sangat kerdil dan bodoh karena anda akan mencoba membongkar memori anda dengan pertanyaan apakah anda pernah bersentuhan dengannya dalam keadaan berkeringat ketika mengikuti 10-K Run for Cancer tahun lalu atau apakah anda sharing makan atau minum ketika hangout bersama ia dan teman-teman anda selama dua tahun belakangan?  Pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena anda tidak memiliki pengetahuan cukup mengenai bagaimana modus penularan HIV/AIDS itu pada manusia. Lalu dalam hitungan menit anda akan mulai sedikit panik dan mengingat-ingat apakah HIV dapat menular lewat sentuhan keringat. Di fase berikutnya anda mulai menyesal karena tidak terlalu banyak membaca literature mengenai HIV/AIDS sehingga tidak dapat dengan cerdas menanggapi keadaan teman tersebut. Lalu seribu pertanyaan lain  muncul dalam benak anda: “Mengapa anda sampai tidak tahu?” ;mengapa anda merasa kecolongan?” ; “Mengapa anda bahkan tidak menyadari bahwa dia, teman yang anda kenal demikian lama itu adalah gay?” ; “apa kata dunia jika mengetahui orang yang dekat dengan anda ternyata gay bahkan HIV  positif?” Dan seribu “mengapa” yang lain.

Saya sering menyebut diri saya sebagai global citizen, warga negara global, artinya saya merasa memiliki wawasan cukup baik, berpaham pluralis dan menolak diskriminasi terhadap perbedaan apapun. Namun test yang sesungguhnya terjadi adalah ketika teman  yang saya ceritakan di atas tiba-tiba mengaku bahwa ia adalah seorang gay dan selama dua tahun terakhir ia menyembunyikan suatu fakta penting dari saya bahwa dia adalah orang dengan HIV. Saya termasuk orang yang percaya bahwa menjadi gay adalah sebuah “lifestyle choice”, pilihan gaya hidup, dan sebagian diri saya yang kolot ini ternyata menolak gaya hidup tertentu yang dipilih seseorang yang berujung sebagai penyebab hancurnya dirinya sendiri. Tetapi saya juga orang yang menghargai hak asasi manusia, sehingga sebenarnya adalah tidak beralasan bagi saya untuk menghukum teman saya itu.

Hampir enam  bulan sejak pertemuan terakhir itu saya tidak mau menemui teman itu dan enggan hangout“ngopi” atau ngobrol ngalor ngidul seperti yang biasa kami lakukan, sampai akhirnya saya memutuskan untuk menemuinya lagi. Tiga tahun setelah saya menerima pengakuan jujur itu, Emir, teman saya itu, akhirnya meninggal dunia di salah satu Rumah Sakit di Singapore. Saya sempat menengoknya dua kali. Masih clear dalam ingatan saya, tubuh kurus yang mungkin tidak lebih dari 34 Kg dengan luka-luka yang tidak dapat sembuh disana sini, sebagai akibat dari hilangnya sistem kekebalan tubuhnya. Keluarganya berpesan dengan suara memohon agar saya tidak memberitahukan siapapun mengenai penyakitnya. Pada abad dimana informasi begitu mudah diakses seperti sekarang ini, ternyata keluarga penderita HIV/AIDS masih berpikir bahwa masyarakat akan tetap menganggap bahwa orang dengan HIV/AIDS sama seperti orang kusta pada jaman Firaun.

Bagaimanakah sebaiknya sikap kita ketika mendengar sahabat, murid, tetangga atau keluarga kita mengidap HIV/AIDS?

Riset sedalam-dalamnya adalah pilihan yang paling tepat. Banyak bertanya. Semakin anda tahu banyak mengenai HIV/AIDS semakin anda ingin lebih tahu lagi mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan virus yang mematikan itu. Semakin anda tahu banyak semakin anda ingin berbagi pengetahuan anda itu kepada orang disekitar anda dan semakin juga anda akan mampu berbicara dengan terbuka mengenai hal-hal yang sering dianggap tabu itu dalam kaitannya dengan HIV/AIDS. Diskusi mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan anal sex misalnya, pernahkah terpikirkan untuk anda mendiskusikan topik ini dengan anak-anak, saudara, teman anda? Baik dari sudut ilmiah maupun rohaniah? Pasti anda merasa tabu bahkan jika hanya memikirkannya.

Informasi mengenai HIV/AIDS harusnya menjadi tanggung jawab kita bersama, seluruh komponen masyarakat.  Pemerintah atau lembaga-lembaga swasta selayaknya memikirkan bagaimana melibatkan masyarakat luas dalam memberikan informasi mengenai HIV/AIDS sehingga “alarm” dan  “awarness” mengenai topik ini meluas.  Sejatinya, masyarakat itu sendiri dapat menjadi “agent of information” mengenai HIV/AIDS bagi khalayak luas, minimum bagi orang di sekitar mereka. Kaum muda tidak dapat dipungkiri lagi adalah kelompok yang paling rentan dalam keberlangsungan mata rantai penularan HIV/AIDS dalam masyarakat kita. Sudah harus dimulai bagaimana agar dosen di perguruan tinggi atau guru-guru SMA, sebagai pihak yang paling banyak berhubungan dengan kaum muda, mendapatkan penyuluhan pengetahuan dasar mengenai HIV/AIDS, sehingga didepan kelas pun seorang guru atau dosen berani membicarakan atau mendiskusikan hal-hal paling mendasar mengenai HIV/AIDS seperti misalnya:

Guys, Mayoritas infeksi HIV berasal dari hubungan sexual tanpa pelindung antar individu yang salah satunya sudah terkena HIV. Ingat, HIV bukan hanya terjadi pada kaum gay, namun dapat terkena pada siapapun!”

Saudara-saudara, Virus HIV ditularkan melalui kontak seksual termasuk seks oral, vagina dan anus yang tidak aman dan melalui transfusi darah yang sudah terkontaminasi HIV, jadi jangan melakukan sex bebas, jangan “jajan” di  sembarang tempat,  jangan berhubungan sex jika kau tidak tahu resikonya, tapi jika kau sudah aktif secara seksual, jangan lupa pakai kondom.

“Anak-anak, modus penularan HIV yang termasuk tinggi adalah melalui jarum suntik atau suntikan dengan HIV terinfeksi individu, jadi selalu perhatikan jarum suntik yang dipakai kepada kalian ketika berobat ke Rumah Sakit atau ke Dokter!”

“Anak-anak, Infeksi HIV tidak menyebar oleh kontak biasa, nyamuk, menyentuh atau memeluk!”

Kalimat-kalimat sederhana seperti contoh di atas tidak harus disampaikan melalui forum resmi seminar atau pelajaran formal di depan kelas, tapi bahkan dalam pendekatan kasual dan informal sehari-hari disela-sela atau di akhir pelajaran. Harus diakui, kita hidup dalam tatanan masyarakat yang bingung menghadapi hal-hal seperti ini, namun “judgemental”, cenderung “menghakimi” dan menyimpulkan sesuatu dengan dasar pengetahuan yang minim. Kita juga hidup dalam masyarakat “denial” , masyarakat penyangkal yang menolak percaya atau berpura-pura tidak tahu bahwa kehidupan sex bebas yang terjadi pada kaum muda di jaman sekarang ini ada di depan mata kita bahkan mungkin di rumah kita. Kita menyangkal karena kita lebih suka disebut sebagai masyarakat yang hidup dalam nilai-nilai tradisional dan agama yang kuat, meski kenyataanya itu adalah sebuah utopia.

Kepada mahasiswa di tempat-tempat saya sering, mengajar di akhir pelajaran, pada weekend misalnya, kadang saya menyelipkan pesan yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran yang saya bawakan untuk melihat reaksi mereka, seperti: “Guys, jangan lupa always have a safe sex, don’t forget to use your condom! We don’t want you to catch HIV nowadays“.   Pada awalnya mereka memang kelihatan malu mendengarnya dan sebagian tertawa cekikikan, namun karena saya mengemukakannya dengan biasa saja, mereka tidak lagi menganggap itu sebagai candaan belaka.

Faktanya adalah, semua orang harus tahu bahwa HIV sudah menjadi seperti wabah dalam kehidupan manusia sehingga setiap individu harus terlibat dalam menghentikan atau minimum memperlambat proses penularannya, dan  kondom adalah salah satu solusi tepat pencegahan menularnya HIV/AIDS
Fakta itu tidak dapat disangkal lagi.

Pekan Kondom nasional 2012 sejatinya harus dapat dijadikan ajang keterbukaan informasi mengenai HIV/AIDs dan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal itu, bahkan di tahun-tahun mendatang gaungnya harus lebih terdengar dengan proses edukasi yang membumi langsung ke sasaran, seperti sekolah-sekolah dan universitas.

“I have a lot of friends who are infected with HIV, and you wanna protect them…To increase the awareness of it and to find a cure for it, the human lives we would save would be a really awesome thing. You just have to involve yourself as much as you can.”~~Tara Reid, American Actress. 

(~~~”saya punya banyak teman yang terinfeksi HIV, dan kamu ingin membantu dan melindungi mereka. Untuk meningkatkan kesadaran orang banyak mengenai hal itu dan menemukan penyembuhannya adalah suatu hal yang luar biasa. Kamu cukup terlibat apa saja sebisamu dalam mewujudkan hal itu”~~~ Tara Reid, Aktris asal Amerika)

(Seperti dipublikasi pada  http://www.kompasiana.com/tikasinaga)

Tuesday, March 6, 2012

Sharing: “DISIPLIN TANPA KEKERASAN”

Ketika saya kecil, saya punya seorang teman yang tinggal tidak jauh dari rumah saya, yang hampir setiap hari dipukul, dijewer ayahnya atau dibentak dengan berbagai kata kasar. Kadang kami sekeluarga merasa kasihan melihatnya namun tidak dapat berbuat apa-apa. Kata ayah saya, tak enak mencampuri urusan orang lain dalam mendisiplinkan anaknya. Setiap keluarga punya cara yang berbeda dalam mendisiplinkan anak-anak mereka. Saya sempat melihat pada masa remaja, teman saya itu tumbuh menjadi orang yang sangat pendiam. Saya merenung apakah itu karena disiplin keras yang ia peroleh dari ayahnya. Beberapa tahun berselang, ketika suatu hari saya hendak mengunjunginya di Bandung, saya mendengar, teman masa kanak-kanak saya itu melakukan bunuh diri beberapa bulan yang lalu karena depresi”.  Itu cerita Ibu Ina, salah seorang jemaat di gereja saya dalam acara sharing persekutuan wilayah yang saya dan beberapa teman selenggarakan dengan thema “DISIPLIN TANPA KEKERASAN”, sabtu kemarin.

“Tetangga saya sering kali menampar atau menjewer anaknya didepan orang. Sampai anak itu sering kelihatan sangat malu dan menutup diri dari teman-temannya. Bertahun-tahun kami tahu mengenai itu dan hanya bergosip diantara tetangga. Kami pikir, itu kan anaknya! Belakangan kami dengar, anak itu membalas memukul ibunya ketika ia dipukul”.  Itu cerita seorang jemaat lain, masih di acara yang sama. 

Sebagai nara sumber yang  mensosialisasikan UU Perlindungan Anak dalam acara tersebut, pertanyaan yang paling banyak diberikan pada sesi sharing itu adalah: Apa yang harus kita lakukan jika tetangga, teman, saudara, kerabat kita melakukan pemukulan terhadap anak-anak mereka, atau ipar kita mencubit, menjewer dan menempeleng anak-anak mereka di depan kita?  Apakah kita boleh menanyakan hal tersebut kepada orangtua yang melakukannya? Sah kah mengingatkan dan menegurnya? Bagaimana sudut pandang Hukum melihatnya? Yang paling menarik adalah, seorang ibu muda bertanya pada saya; “kalau nyeples kakinya sedikit atau sentil kupingnya sedikit boleh dong kak? Gak kuat kok, soalnya anak saya itu bandel dan hiperaktif, orang tidak salah apa-apa dijitaknya”.  Dalam hati saya bergumam, apa ukuran “sedikit” itu? Mukul sedikit, nyeples sedikit, jewer sedikit akan menjadi sebuah kebiasaan "remeh" yang sistemik.

“Jangan pernah melakukan kontak fisik apapun untuk mengekspresikan amarah, bu, itulah inti dari UU Perlindungan Anak”, jawab saya.  “Bahkan ketika ibu pikir bahwa mendorong kepala dengan telunjuk, memukul dan menjewer itu terkontrol dan tidak sakit, atau ceplesan ibu itu tidak kencang sekalipun! Karena rasa khawatir, malu, takut pada anak adalah juga bentuk kekerasan yang dimaksud oleh UU. Tegaskan lewat perkataan, apa yang ibu inginkan dari anak ibu, karena ada seribu cara untuk menerapkan sistem “reward dan punishment” pada anak anda. Ketika anda memulai dengan ceplesan, jeweren, cokotan, anda sudah memulai sebuah sistematika kekerasan”, lanjut saya. Si ibu mengangguk-angguk, mungkin ia sering nyeples/njewer  anaknya.

Banyak orang berpikir bahwa UU Perlindungan Anak ditujukan bagi penganiayaan-penganiayaan berat semata. Keliru! UU Perlindungan Anak penerapannya diawali pada lingkaran terdekat kita yaitu keluarga.

Yang mengejutkan saya, banyak orang di sekitar kita, baik mereka yang berpendidikan tinggi atau rendah, meremehkan kekerasan-kerasan yang mereka pikir “kecil” dan “perlu” dengan alasan pendisiplinan. Ibu Utari, teman saya yang pengurus gereja menghadapi situasi dilematis di keluarganya. Kakaknya sering kali memukul anak-anaknya didepannya, atau “mencokot” mulut anaknya dengan tangannya ketika anak itu berbuat salah. Permasalahannya adalah, si kakak yang manager sebuah Bank itu tidak terima ditegur, bahkan kakak yang lain berkata “itu kan anaknya suka-suka dia mendidik anaknya dengan caranya”.  Saya senyum-senyum karena itu juga terjadi pada beberapa kerabat dalam keluarga besar saya. Pendidikan tinggi tidak membuat serta merta orang dewasa mengerti apa arti “kekerasan pada anak”. Betulkah bentuk pendisiplinan anak dengan kekerasan adalah hak orang tua semata?

James Dobson, dalam bukunya “Dare to Dicipline”, mengatakan: “hukuman fisik sekecil apapun tidak akan mencegah atau menghentikan anak melakukan tindakan yang salah. Hukuman fisik ini justru dapat berakibat buruk”.  Sama seperti semua orang dewasa, anak-anak juga memiliki 3 entitas yang saling mempengaruhi dalam dirinya yaitu:  akal pikiran, hati nurani dan raga.  Anak akan meresponse kekerasan sekecil apapun yang dia alami  dengan  berpikir (akal pikiran), merasa (hati nurani) dan bertindak (raga), sejak ia mengalami kekerasan itu hingga dewasa.

Sebulan yang lalu seorang teman meminta bantuan saya untuk bertemu dengan Kepala Sekolah anaknya. Sekolah swasta mahal yang cukup bergengsi. Masalahnya, anak laki-lakinya yang berusia 11 tahun yang bertubuh ekstra gemuk itu mendapat bully dari banyak teman di sekolahnya. Bullying itu demikian menggangunya, sampai ia enggan berangkat ke sekolah. Usut punya usut, anak itu ternyata bukan hanya diejek dan ditertawakan tetapi juga jadikan bahan “joke” teman-temannya dalam pelajaran olahraga, seperti misalnya didorong beramai-ramai, ditarik celananya dsb.  Secara fisik anak itu memang tidak terluka, tapi jelas sekali ia gundah dan galau. Saya bertanya pada teman itu apakah ia sudah melaporkan masalah itu kepada Wali Kelas atau Kepala Sekolah? Teman saya mengatakan, “sudah” tapi setelah dua tiga hari berhenti akan terjadi lagi. Geram dengan keadaan tersebut, saya sempatkan juga bertemu dengan Kepala Sekolah, Wali kelas dan beberapa guru bersama teman ini. Ternyata sosialisasi Undang-Undang Perlindungan Anak sangat mentah di kalangan pendidik. Kepala sekolah tersebut bahkan tidak tahu ada pasal berbunyi :

Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya. (Pasal 54, UU Perlindungan Anak - UU No 23 tahun 2002)

Sejak pertemuan 2 jam itu, sampai hari ini tidak ada lagi bully terhadap Joshua, putra teman saya yang bertubuh gempal  dan berwajah lucu itu. Tak ada lagi perdebatan setiap pagi enggan ke sekolah.
   
Penggunaan kekerasan dalam mendidik anak sudah berakar di masyarakat Indonesia sebagai suatu yang sah. Pendidikan tradisional tersebut kemudian menjadi budaya turun-menurun. Sangking membudayanya, kita tidak melihatnya sebagai sesuatu yang “aneh”. Kita malah lebih khawatir jika kita memberitahu orang tua yang melakukan kekerasan, mereka akan tersinggung. 

Pernah suatu kali, ketika saya mengantri Taxi di Mall Taman Anggrek, di samping saya berdiri seorang ibu cantik dengan jambul ala Syahrini lengkap dengan high-heel dan parfum wangi, bersama suami dan  anak laki-laki mereka berusia sekitar 5 tahun. Anak itu menggelayut pada tubuh ibunya sambil menangis. Yang saya dengar hanya kata “mainan, mainan, mainan”. Mungkin ia minta mainan. Si ibu tidak berupaya membujuk anak itu, dan dengan wajah jengkel berkosentrasi menunggu supir mereka, sementara si  Bapak asik menelpon. Tiba tiba; “plak!”  Anak itu ditampar dengan cukup keras dalam ukuran saya. Spontan tanpa saya sadari saya berteriak: “lho kok dipukul bu!!”. Ibu itu terkejut menatap saya, nyata sekali ia sangat shocked karena dipergoki menampar anaknya. Ia memeluk anaknya dan berkata: “maaf, bu nakal sekali”, katanya berusaha tersenyum.  Saya tidak berkata apa-apa, mungkin ia dapat membaca tatapan mata saya yang sangat marah. Saya bertanya dalam hati, mengapa ia spontan menjawab “maaf bu, nakal sekali”. Mengapa berkata maaf pada orang yang tidak ia kenal. Mungkin karena ia sebenarnya tahu bahwa perbuatan memukul anak apalagi di depan publik adalah perbuatan rendah yang sangat memalukan.

Undang-Undang Perlindungan Anak menegaskan bahwa Anak yang dilahirkan memiliki kedudukan yang sama dengan orang dewasa sebagai manusia. Anak bukan hanya memiliki hubungan hukum dengan orangtuanya tetapi juga dengan negara. Seorang anak bukan hanya berhak dilindungi dari segala bentuk kekerasan (fisik dan mental), melainkan  juga memiliki hak untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan mereka, hak untuk diperlakukan dengan rasa hormat, hak untuk tidak dipermalukan oleh siapapun bahkan oleh orangtuanya, dan hak-hak lain. Undang-Undang Perlindungan anak juga menegaskan penyertaan  setiap anggota masyarakat untuk peduli pada anak-anak sekitar kita, bukan hanya keluarga kita. Bahkan ada sangsi bagi yang “mengetahui adanya kekerasan tetapi membiarkan”.

Mulai membudayakan disiplin tanpa kekerasan dari anda, keluarga anda, keluarga besar anda, teman-teman dan tetangga anda, secara perlahan akan menggantikan budaya tradisional (baca: primitif) kekerasan pada anak dalam masyarakat kita.

Minggu  depan saya masih akan bicara permasalahan yang sama di sebuah gereja di kawasan Kota, Panglima Polim dan Kebayoran Baru dan jika anda memerlukannya, dengan senang hati  saya dan team saya akan datang memberikan sosialisi mengenai Undang Undang Perlindungan Anak dan Kekerasan Pada Anak dalam Keluarga dan Sekolah, di sekolah-sekolah anda.
 

Monday, February 20, 2012

Budak Teknologi , Mabok Teknologi, Sadar Teknologi

Tadi pagi saya  menulis di status twitter saya tentang seorang pemulung klasik yang saya jumpai ketika jogging. Pemulung yang membawa keranjang di punggungnya seperti astronot  lengkap dengan alat pengait terbuat dari besi itu, sedang mengais sampah di sekitar komplex rumah  saya sambil tangan kirinya memegang telepon genggam di telinganya. Ia kelihatan bercakap-cakap sambil senyum-senyum. Saat itu masih subuh jam 5, jadi mungkin ia memanfaatkan paket telepon murah. Sayang saya tidak bawa kamera.  Mungkin kalau saya potret saya bisa memenangkan kontes foto humanist, atau mungkin juga si pemulung tersinggung, bisa-bisa saya  disodok pakai besi pengaitnya. Technology is indeed for all! Even pemulung!

Sesekali saya bertaichi di halaman Citraland Mall pada sabtu subuh. Taichi adalah olahraga yang memerlukan kosentrasi karena pembakaran energy justru dilakukan lewat kosentrasi tinggi . Coba anda bayangkan jam 5 subuh, saat anda bertaichi bersama sekitar 50 orang lainnya, tiba-tiba salah satu telephone peserta taichi berdering. Si pemilik telpon mengangkatnya pulak! Halohhhhhh!!!

Kalau  teman, suami, istri atau saudara anda yang sedang  menyetir mengangkat telponnya atau bahkan mencoba membalas sms, apa yang anda lakukan? Diam saja atau menawarkan membantu mengangkat telpon atau membalaskan sms? Tindakan anda, apapun itu, menunjukkan siapa anda.

Salah satu PRT saya sangat addicted dengan telepon sampai harus saya pecat karena setelah 2 bulan diperingati tetap tidak dapat merubah ketagihannya. Bayangkan, ketika menyetrika dia pake headset, sehingga saat ibu saya yang berusia 78 tahun itu memanggil namanya, telinganya tuli tersumbat headset. Ketika saya memberlakukan sistem bel untuk memanggilnya, tetap tidak berhasil. Apapun yang dikerjakannya akan dihentikan ketika teleponnya berdering. Kadang saya memergokinya masih berbicara di Hape jam 1-2 pagi. Bagaimana dia mau bekerja dengan sehat kalau jam 2 pagi dia masih cekikikan di telpon? Yang luar biasa adalah, setelah 1 bulan bekerja, saya menemukan bahwa dia punya 3 telpon dengan 3 macam provider berbeda. Ada tidak sih Rumah Sakit ketergantungan pada telephone?

Salah seorang jemaat di gereja saya, Linda, seorang ibu rumah tangga sederhana yang masih kental berbahasa dialek cina, suatu hari  bertanya pada saya dengan logat sengkeknya: “tik, lu maen fesbuk kagak? Entu lu apeh namanya? Maksud gua fesbuk lu namanye apeh? Entar gua masukin fesbuk gua, gua sering maen fesbuk”.   Duuuuuuuuh, Facebook tempat saya bersosialisasi  dan mengeluarkan uneg-uneg sosial saya itu disebut “maen” sama si Linda, teman saya.  Saya perhatikan memang si Linda ini sering membuka BlackBerrynya saat Pendeta sedang kotbah. Rupanya dia sedang mabok teknologi.

Kemenakan saya yang berusia 4 tahun, sudah dengan lancar mengoperasikan IPAD-nya. Ia bisa memainkan beberapa simple game di IPAD, membuka video-video aktivitas bermusik ia dan ayahnya, membuka foto-foto yang di upload di IPADnya, dan menunjukkan kepada saya apa saja yang dia punya di IPADnya.  Siapa sih pemakai IPAD? Pasti yang memerlukannya. Tak semua orang harus pakai IPAD.  IPAD bukan lambang status sosial sesaeorang, melainkan sebuah benda yang bisa dibutuhkan bisa tidak. Kalau mampu beli IPAD bahkan untuk anak umur 4 tahun, yah mengapa tidak? Tapi kalau sampai ngutang-ngutang  beli IPAD, supaya bisa ditenteng-tenteng kelihatan orang, untuk apa? Saya mengenal seorang pegawai biasa yang bergaji 2  juta rupiah dan susah payah mencicil IPADnya, dan beberapa kali mengganti BlackBerrynya dengan model terbaru, padahal ia sudah punya laptop yang cukup baik.

Dimanapun saya mengajar atau membawakan training sebelum memulai saya pasti akan meminta mahasiswa/peserta training  untuk tidak mengaktifkan teleponnya, dan biasanya di lingkungan dimana disiplin sudah biasa diterapkan, itu bukan hal yang sulit. Tapi di banyak universitas, budaya main telpon/BB masih terjadi ketika Dosen sedang memberi kuliah. Anehnya ada  saja dosen yang tidak keberatan mahasiswanya buka telepon di kelas. Untuk saya itu adalah hal yang sangat menjengkelkan. Dosen seharusnya menetapkan standard dan kultur yang “correct” soal telephone policy, kecuali memang cara mengajarnya sudah tidak becus, jadi dia sadar betul kelemahannya, sehingga tidak mau menetapkan aturan-aturan tegas di kelasnya.

Pernah tidak anda ke bioskop, lalu ketika anda sedang menyimak dialog serius di layar besar itu, tiba-tiba suara telpon dari bangku didepan anda berbunyi. Belum lagi dia harus nyari-nyari hapenya di kegelapan, sampai kita harus mendengarkan 4-6 deringan. Masih mending jika setelah hapenya ketemu langsung dimatikan. Ada juga yang mengangkatnya dan berbisik menerima telp itu sampai orang  dibelakanganya (termasuk saya) akan menghardiknya dengan “pssssttttttt!!!!”.

    Pernah suatu kali saya sedang menginterview seseorang untuk posisi Senior Manager. Interview dengan saya adalah last interview, setelah melewati Test psikologi, user interview dan HRD interview. Ditengah-tengah interview, suara telephone vibrasinya memanggil-manggil. Saya pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan interview saya, walaupun dari wajahnya menunjukan kosentrasi yang mulai terpecah. Saya biarkan dia membuat keputusan. It’s her call. I kept go on. Akhirnya dengan tersenyum gelisah dia berkata: “bolehkah saya angkat dulu telephone saya ini, ibu?”. Dalam keadaan seperti itu apa yang diharapkannya saya jawab? Tentu saja saya menggangguk.  Kandidat Senior Manager itu keluar dari ruangan saya, menuju area sekertaris dan menerima telponnya. Sekitar 5 menit saya tunggu calon Manager itu tidak balik ke ruangan saya. Mungkin teleponenya cukup penting. Saya lalu menghubungi sekertaris untuk mempersilahkan kandidat itu meninggalkan office dan menggangap interview sudah selesai.  Ada beberapa hal yang bersifat standard dalam etika bertelephone, ada beberapa hal yang kita sendiri terapkan sebagai standard pribadi. Untuk saya pribadi, ketika saya sedang diinterview oleh suatau perusahaan, saya akan menghormati orang yang menginterview saya dengan tidak mengangkat telpon dalam kondisi apapun!. 

Suatu hari seorang teman di kampus tempat saya sedang berkuliah, Nadapdap, menghampiri saya dan mengeluh: “Aku mau minta dispensasi pembayaran kuliah kak, tetapi Ka Bag Keuangan sedang rapat diluar.”  Saya bertanya: “Mengapa kau tidak menelpon dulu??”. Jawabnya: “Aku pikir lebih baik ketemu langsung dan saya juga khawatir, mereka enggak mau menanggapi kalau dari telephone”.  Si Nadapdap, teman saya yang pegawai sebuah kantor research ini  mungkin sadar bahwa telepon bisa bermanfaat, tetapi ia khawatir pegawai Universitas belum sadar kewajibannya.  Jawab saya: “Kau lah yang berikan pembelajaran sama mereka bahwa mereka wajib menerima keluhan apapun lewat telephone, omelin kalau perlu! Gini hari engak mau terima keluhan via telpon, suruh ke laut aja”.    Tujuan teknologi sesederhana telepon seharusnya  mempermudah hidup kita, memberikan efisiensi waktu dan energi kita yang harus bersusah payah datang ke kampus  untuk pada akhirnya tidak menemukan orang yang dicari. Tentu saja instansi yang bersangkutan seperti Universitas harus selalu mengangkat telpon dan MAMPU menyelesaikan masalah-masalah kemahasiswaan lewat telpon, kecuali dimana diperlukan penandatanganan secara langsung.

Teknologi adalah sesuatu yang kita butuhkan dan sepatutnya kita kendalikan, bukan sebaliknya. Teknologi merubah cara kita bekerja dan cara kita berpikir yang semuanya bertujuan untuk lebih efektif dan efisien.  Teknologi harus dipakai dengan asas manfaat yang tepat dan keseimbangan yang benar. Tidak harus berlebihan.  Diperlukan semua pihak untuk menyeimbangkan sehingga kesadaran teknologi itu tidak timpang. Di sisi lain, perubahan cara berpikir dan cara bekerja sebagai akibat dari perkembangan teknologi itu tentu memberikan dampak budaya dan sosial yang baru juga. Dan ada proses edukasi disana. Kadang kita adalah “agent” dalam proses edukasi tersebut. Dengan mengatakan “psssttttt!!!” di bioskop, kita telah memberikan pelajaran pada seseorang dan orang lain disampingnya.

Kita harus mengasah kemampuan kita untuk mengamati dan menyelami perubahan-perubahan tersebut, sekaligus mempelajari aturan-aturan mainnya. Etikanya. Sederhana saja. Kalau Taichi yah jangan angkat telpon lah! Kalau masuk gedung bioskop, matikan lah telpon. Di tempat ibadah jangan kutak-kutik BB lah! Kalau lagi interview, matikan semua gadget! Kalau di Pesawat, sudah diperingatkan matikan semua alat komunikasi, matikan lah! 

Bumi enggak akan  terbalik kalau kita berhenti dari semua perangkat komunikasi dalam beberapa jam.

Saturday, February 4, 2012

Budaya Senyum dan Senyam-Senyum Kita

Siapa yang melihat Press Conference KPK kemarin, saat Abraham Samad, Ketua KPK mengumumkan penetapan Status tersangka Angelina Sondakh? Terlepas dari kehebatan KPK yang kelihatannya serius mengungkapkan kasus korupsi Wisma Atlet, tapi cara Samad memberikan Press Conference kemarin menjadi pembicaraan banyak pihak.  Samad membawakannya dengan banyak senyum, mengarah ke senyam-senyum, bahkan dengan bercanda menyebutkan inisial tersangka AS dengan plesetan namanya (Abraham Samad). Mungkin waktu becandanya yang tidak tepat. Di Tweeter banyak orang menggambarkannya sikap Samad dalam Press Conference itu sebagai “terlalu ramah”, beberapa lebih keras sebagai bentuk "dagelan", bahkan “cengengesan.”  Yang jelas, konferensi pers KPK kemarin kan pastinya memberikan kesedihan dan ketegangan juga pada sang tersangka dan keluarganya, jadi seyogyanya tidak dipleset-pelesetkan dalam bentuk canda-canda yang tidak terlalu lucu?

Nah, Ini pengalaman saya pribadi. Suatu hari seorang konsultan bule berkebangsaan Amerika  yang kebetulan bekerja dengan saya mengeluh. Si bule baru beberapa hari tiba di Jakarta. Rupanya, setiap kali ia melakukan aktivitas ke Pantry atau photocopy/fax area, office boy disana selalu melihatnya sambil tersenyum (mungkin senyum-senyum). Si bule memakai istilah: “grin”, yang artinya kira-kira adalah menyeringai, atau cengar-cengir.  “Why are the boys always smiling at me, Tika? They stare at me and smile or grin at me everytime I do something around them, which is about hundred times. Something wrong with me? Or is that because I look funny or ugly or what??”, tanya si Konsultan gelisah. Dengan suara setengah berbisik dia bertanya pada saya: ”Are they gay?”.

Saya harus menerangkan pada si bule mengenai Budaya Senyum (dan senyam-senyum) pada kebanyakan masyarakat Indonesia yang sering menjadi salah arti, dan tentunya juga memanggil semua office boy serta memberikan pengarahan mengenai kebiasaan senyam-senyum  dan keramah-tamahan mereka yang membuahkan “tabrak budaya”. Bukan lagi “cross culture” tetapi  “crash culture.”

Masih kisah nyata. Anda ingat Amrozi? Teroris Bom Bali yang menewaskan 202 orang itu? Suatu hari setelah ia ditangkap, foto Dai Bachtiar, (Kapolri waktu itu) yang sedang tersenyum bersalaman dengan Amrozi, muncul di seluruh headline surat kabar di banyak negara termasuk Australia. Kebetulan dalam peristiwa Bom Bali itu warga Australia lah yang paling banyak korbannya. Senyum sang Jendral dan Amrozi di foto itu konon bukan hanya sangat menyakiti hati seluruh keluarga korban, tapi juga membuat marah dan menjadi bahan cemoohan publik dan pejabat tinggi Australia. Mereka bingung mengapa Jendral Kapolri kita tersenyum pada teroris sadis yang dalam foto itu juga tampak cengengesan. Tokoh Oposisi  yang juga Juru Bicara Kementrian Luar Negeri, Kevin Rudd waktu itu mengatakan: “I thought it would make all Australians feel physically sick that any person could laugh at the suffering, the pain, the torment and the death of hundreds of innocent Australians."   "Publik Australia muak dan terheran heran kok ada orang bisa tertawa ditengah penderitaan dan keos atas begitu banyak kematian yang diakibatkan manusia itu", katanya.  Pemimpin oposisi Simon Crean mengomentari dengan keras foto itu dan menyebutnya sebagai sebagai "bizarre and insensitive.” “Luar biasa aneh dan tidak sensitif.” Bahkan Perdana Mentri John Howard ikut berkomentar marah atas foto itu. Intinya adalah, senyum Amrozi dan Kapolri itu membuahkan ketegangan bilateral antara dua negara.

Senyum adalah ibadah. Setuju seratus persen.  Segala sesuatu dimulai dengan sebuah senyum. Setuju juga. Senyum adalah bentuk sebuah pengharapan akan hal baik. Setuju juga! Lalu apa yang terjadi kalau “senyum” berubah  menjadi sebuah “senyum-senyum”?

Senyum oleh para ahli dikatakan sebagai  ekspresi wajah  yang terjadi akibat bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan di bibir atau kedua ujungnya, atau pula di sekitar mata. Umumnya senyum terjadi atau dilakukan untuk menampilkan kebahagian dan rasa senang.  Senyum juga dapat dilihat sebagai produk budaya. Kata beberapa  pakar budaya, ekspresi emosi dipengaruhi budaya

Tiga contoh di atas menunjukkan bahwa sebuah bentuk budaya seperti budaya senyum dapat saling bertabrakan dengan budaya manapun. Tidak melulu budaya asing dengan budaya lokal, bahkan diantara budaya budaya lokal itu sendiri. Kita tahu Indonesia memiliki ribuan suku dan bahasa daerah. Tentu, ragam budaya suku bangsa itu pun berbeda. Satu-sama lainnya, memiliki karakter khusus. Kita berasumsi bahwa kebanyakan orang Jawa, seperti Amrozi misalnya, dikenal sebagai suku yang lebih banyak tersenyum dibandingkan suku batak misalnya,  namun kenyataanya Abraham Samad bukan orang jawa, dan kemarin ia banyak senyum. Kita juga berasumsi bahwa ekspresi perasaan bahagia, sedih, marah memiliki kesamaan pada banyak orang dimanapun, ternyata tidak. Kalau melihat senyam-senyumnya Saiful Jamil ketika membicarakan kematian istrinyapun, atau senyum Jendral Adang Daradjatun yang memberikan keterangan pers ketika istrinya Nunun tertangkap, kadang kita mengernyitkan kening. 

Ray Birdwhistell (1963) seorang pakar human body motion memberikan sebuah  hipotesis yang mengatakan bahwa tidak ada ekspresi yang memiliki arti universal. Semua gerakan itu adalah produk budaya, bukan diturunkan secara biologis. Saya pikir, kalau itu sebuah produk budaya, artinya dapat diteliti, dipelajari dan diperbaiki? Seperti memperbaiki budaya korupsi? Budaya asal bapak senang? Budaya malas? Budaya kacungisme?

Saya juga orang yang suka tersenyum, bahkan pelucu yang kerap tertawa terbahak-bahak. Saya percaya senyum akan mengawali sebuah hal positif.  Jadi kalau masalah ini saya uraikan sebagai sebuah sudut pandang, itu bukan karena saya anti senyum.  Idealnya  mungkin menjadi seorang yang lintas budaya, artinya kita peduli dan sensitif atas pemikiran budaya lain atas tindakan dan sikap kita? Dengan kata lain,  sebagai manusia lintas budaya kita mestinya tahu kapan harus senyum, dan kapan harus senyam-senyum.

Sunday, January 30, 2011

Perempuan Tabanan Pemecah dan Penjaja batu

Saya baru saja kembali dari Bali, minggu lalu. Sudah  puluhan kali saya ke Bali untuk pelesiran atau urusan kerja, dan bahkan pernah tinggal disana kurang lebih satu tahun di sekitar tahun 1988-1989,  tetapi perempuan pemecah dan penjaja  batu di Tabanan itu, baru dalam perjalanan  kemarin saya perhatikan. 

Diundang bersama teman-teman dari sebuah "weekend gateaway" program yang diadakan oleh Majalah MORE, saya baru saja  bertemu dengan perempuan-perempuan itu di kampung kecil bernama Desa Tegal Jadi, di wilayah Kabupaten Tabanan. Sejenak kami mencoba “menyelami” pekerjaan mereka dengan caberjalan beriringan, menyusuri jalan yang mereka tempuh dari jalan tempat mereka meletakkan batu di tepi jalan besar, menuju sungai kecil yang curam dan terjal, sekitar 400 meter jarak tempuhnya. Untuk mencapai sungai kecil itu anda harus berjalan di jalan setapak yang menurun dengan cukup curam, sebelum harus menuruni anak tangga yang sangat terjal dan licin, tanpa  pembatas di kanan-kiri kita. Jika saya tergelincir kemarin (thank God we're  all fine!), saya pasti akan luka parah, karena dari tangga terjal tempat saya turun menuju dasar tanah itu berjarak sekitar 6 s/d 8 meter. Di sungai kecil di dasar jurang itu mereka memecah-mecah batu  yang masih menggunung dan mengangkatnya ke jalan raya, dengan kembali menyusuri tempat kami berjalan turun tadi, kali ini tentunya mendaki dengan 3 bongkahan besar batu di kepala mereka. Dalam sehari (Sekitar 8 jam kerja) mereka mampu mengangkat dan menyusun ½ kubik batu kali yang harga jualnya sekitar Rp. 20,000 per kubik.  Dari kacamata apapun atau siapapun kelihatannya tidak manusiawi.  Sad? I think so. What a life!

Jadi jika anda sedang jengkel dengan bonus di kantor anda yang tidak kunjung tiba, atau resah dengan gaji yang sudah 7 tahun tidak naik, ingat saja perempuan Tabanan pemecah dan pengangkat batu di gambar ini. Pasti anda akan menyukuri semua yang sudah  atau  sedang anda peroleh.

Tuesday, February 17, 2009

Hari Pembantu Nasional, Bik Sum dan Si Puput, Anak Indonesia Yang Tidak Punya Cita-Cita.

Ketika beberapa LSM mengundang saya untuk hadir dalam aksi solidaritas untuk Pembantu Rumah Tangga (PRT) di bundaran Senayan pada tanggal 15 Februari kemarin, saya jadi teringat pada almarhum Bik Sum, pembantu yang saya kenal sejak saya dan 5 saudara saya lahir sampai ia meninggal dunia dihadapan saya tahun 2006 lalu.

Bik Sum, perempuan Jawa asal Semarang itu, bekerja pada kami selama kurang lebih 55 tahun, melayani generasi Almarhum Nenek saya, Ibu saya, saya dan saudara-saudara saya, serta bertemu dengan generasi kemenakan saya di hari tuanya. Selama 7 tahun terakhir hidupnya, praktis ia hanya tinggal makan, tidur dan nonton TV, dan dengan tegas ia menolak ketika kami mengusulkan untuk memasukkannya ke Panti Jompo. Selama 3 tahun sebelum ia meninggal, saya mempekerjakan seorang pembantu lagi yang secara khusus melayani perempuan tua yang sudah sangat rewel dan bertingkah seperti anak kecil itu.

Merawat perempuan tua yang tidak pernah menginjak bangku sekolah itu sangat tidak mudah. Jika makanan yang dimasak menurutnya tidak enak, ia akan membuang makanan yang disajikan, dan meminta makanan kesukaannya. Belum lagi kegemaran-kegemaran anehnya seperti menyembunyikan barang-barang rombeng yang sudah kami buang ke tempat sampah dan dianggapnya masih bagus. Ketika saat-saat tertentu saya melakukan inspeksi dan memeriksa kamarnya dan membuang sekitar 2 karung barang bekas yang sebenarnya sudah pernah dibuang, ia akan menangis menjerit-jerit sambil mengambil tali dan mengancam untuk bunuh diri. Biasanya saya dan saudara-saudara saya akan tertawa-tawa dan menakut-nakuti dia akan memanggil Polisi. Sampai nafas terakhirnya saya ada disampingnya, dan selalu minta maaf atas kesalahan saya dan keluarga saya selama ini dan minta ia pergi dengan tenang serta berulang-ulang meyakinkan ia bahwa tinggal bersama Tuhan akan lebih enak, kata saya. Anda tahu jawabnya? “Aku mau sembuh Non, mau sembuh, aku masih kuat”. Padahal ketika ia berkata seperti itu, usianya sudah hampir 90, matanya sudah buta karena sakit 3 bulan terakhir, nafasnya tersengal-sengal karena asma akut, tangannya patah dan kami topang karena ia sempat mencoba bangun dari tempat tidur tetapi terjatuh, aktivitas buang airnya sudah dilakukan di tempat tidur, baunya sudah tak enak dan berat badannya mungkin hanya tinggal 30 Kg.

Bik Sum adalah simbol kesetiaan, dan kekuatan seorang Pembantu rumah tangga.

Puput adalah seorang perempuan kecil lumayan cerdas berusia 8 tahun, asal Kutoarjo. Suaranya cempreng, bicaranya ceplas-ceplos, berani, makannya banyak seperti orang dewasa. Ia terdampar di rumah saya beberapa bulan terakhir ini bersama ibunya, seorang janda berusia 40, pembantu saya yang luar biasa cerewet, tetapi dengan skill yang jauh dibawah angka 6. Saya harus mendidiknya dari awal untuk memenuhi standard kerapihan dan kebersihan di rumah saya, serta mendisiplinkan kecerewetannya. Majikan tempat ia bekerja sebelumnya rupanya tidak peduli pada standard-standard itu, akan tetapi peduli pada “label panggilan” untuk mereka. Ia diharuskan memanggil majikannya terdahulu dengan sebutan “Tuan” dan “Nyonya” seperti jaman perbudakan kolonial Belanda. Saya terheran-heran!
“Mengapa bukan Bapak dan Ibu?”, tanya saya, dengan alis berkernyit.
“Enggak boleh, Kak, harus Tuan dan Nyonya”, jawab Sunarni pembantu saya.

Si kecil Puput, anak pembantu saya itu bersekolah di sebuah sekolah negeri gratis,dekat rumah saya, jadi praktis saya hanya sesekali mengeluarkan uang untuk membeli seragam, buku, uang jajan harian serta pakaian. Puput sadar betul ibunya adalah seorang Pembantu Rumah Tangga, dan dengan lantang ia menjawab; “Pembantu!”, ketika gurunya atau temannya bertanya apa pekerjaan ibunya. Sesekali di waktu senggang saya memeriksa bukunya dan mengarahkan dia untuk menulis puisi dalam sebuah buku agar ia sedikit lebih “cultured” dan melupakan sinetron televisi. Walaupun ia rangking I di sekolahnya, tetapi setiap kali saya bertanya apa cita-citanya kalau sudah besar, Puput akan menjawab: “belum tau!” atau “tidak tau!”.

“Semua orang punya cita-cita, Puput!”, kata saya. “Kamu harus punya cita-cita, Dek, harus punya keinginan. Apa keinginanmu? Main Sinetron? Jadi polisi? Jadi Dokter? Jadi Guru? Asal jangan jadi peragrawati, karena kamu kelihatannya bakal bogel dan pendek, dan jangan jadi pembantu lagi dong, biar enggak miskin terus”, sambung saya dengan mendorong.

“Aku enggak tahu, Kakak. Kan orang nasibnya beda-beda dan ganti-ganti”, jawab Puput, dengan sedikit sewot.

Jawabannya seperti mengemplang kepala saya. Sampai saya menulis Notes ini, setelah berbulan-bulan, Puput tetap belum “make up her mind”, mau jadi apa dia kelak. Padahal ketika saya seusia Puput, saya akan menjawab cita-cita saya dengan konsisten setiap kali ditanya, demikian pula kemenakan-kemenakan saya dan anak-anak seusia Puput yang saya kenal, mereka akan menjawab cepat ketika ditanya cita-citanya.

Sebagai anak pembantu, Puput sudah dipagari atau terpagari tanpa sadar oleh faham “pasrahisme”; pasrah dengan nasibnya. “Gimana nanti” itu filosofi hidupnya. Saya merasa berkewajiban merubah mindset kepala Puput itu. Belakangan kami sering membawanya ke Mall atau ke acara-acara keluarga, supaya Puput melihat dunia luar dengan lebih luas lagi dan, hopefully, one day dia akan punya cita-cita seperti semua anak-anak lain. Minimum, saat ini Bahasa Indonesianya, caranya bertutur dan choice of words yang ia gunakan, sudah mirip dengan kami sekeluarga. Asal jangan bicara cita-cita. Untuk yang satu itu ia masih bingung.

Puput adalah simbol kepasrahan seorang PRT. Kepasrahan itu ditularkan ke generasi baru mereka; anak-anak mereka.

Cerita-cerita mengenai pembantu kita ada dalam kantong kita masing-masing. Kadang terkunci rapat sebagai rahasia kita. Setiap hari kita bertarung dengan "anger management" kita ketika menghadapi pembantu yang bodoh, jorok, pembohong, "ndablek", malas, rakus atau bau. Tapi mungkin semua cerita rahasia dibalik pintu rumah kita itu terwakili oleh slogan-slogan yang saya baca pada hari aksi Solidaritas 15 February lalu; "Berikan Hari Libur untuk Pembantu Rumah Tangga,"; "Beban Kerja yang Berat,"; "Berikan Waktu Belajar untuk Pembantu Rumah Tangga,"; “Prioritaskan UU Perlindungan Pembantu”; “Upah Minimum pembantu berapa?”, dsb
  
           So, should We Say, Selamat Hari Pembantu Nasional?

                                                             Puput

Thursday, January 10, 2008

"Boru Raja", Sebuah Konsep Priyayi Perempuan Batak

Alkisah pada jaman dahulu kala, di jaman Cinderella, seorang Raja sedang mencari seorang calon istri. Banyak keluarga kerajaan tetangga menjodohkan sang Raja dengan putri-putri mereka, namun sang Raja mencari seorang Putri sejati. A “true princess”. Bibit bobot bebet adalah penting bagi keluarga kerajaan ini demi mempertahankan silsilah sang Raja. Dalam proses pencaharian, muncul seorang kandidat yang tampak sederhana, jauh dari kemewahan dan keglamoran seorang “princess”. Untuk itu Raja perlu memberikan test. Ia mengundang princess sederhana ini untuk menginap di istananya, dan memberinya sebuah kamar indah dengan pelayanan terbaik kerajaan. Sang princess tidur di tempat tidur berlapis 7 kasur tebal, dan di lapisan paling bawah diletakkan sebutir kacang. Pagi harinya dalam acara makan pagi, sang Raja bertanya : “Bagaimana tidur anda tadi malam, Princess?”. Sang Princes yang tidak tampak sebagai princess itu menjawab: “Saya agak susah tidur, Paduka, saya rasa ada sesuatu yang mengganjal di punggung saya, seperti benda kecil entah apa, tapi I will be fine …”, jawab sang Putri. Saat itu, sang Raja tahu, perempuan itulah Princess sejati yang ia tunggu.

Itu adalah satu dongeng kanak-kanak terkenal asal Swedia yang berjudul THE PRINCESS & THE PEA karangan HC Adersen, yang (sampai hari ini) sudah diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa dan dalam bentuk play dimainkan di ribuan theatre di seluruh dunia. Setelah saya dewasa baru saya mengerti maknanya. Dongeng itu, menurut para psikolog Barat, mengajarkan anak-anak perempuan untuk sensitif. The moral of the story menurut para kritikus sastra adalah “Nobody but a real princess could be as sensitive as that”.

Waktu saya kecil hingga remaja, almarhum Ayah saya kerap kali memberitahu kami anak-anak perempuannya untuk berbuat, bertindak, berpikir, berbicara dan berperilaku seperti “boru raja” atau dalam bahasa Indonesia adalah “putri raja”. Sungguh mampus, waktu itu saya tidak mengerti apa maknanya dan sebal setiap kali Ayah saya mengingatkan saya akan hal itu. Waktu itu, menurut saya itu hanyalah sebuah konsep konyol dalam filosofi tradisional batak.

Ayah saya sering sekali memperbaiki cara duduk saya yang kerap sembarangan, tawa saya yang terbahak-bahak, cara berpakaian saya yang seenaknya, make-up dan hairstyle saya yang dianggapnya sering berlebihan (for your info, semasa remaja saya terobsesi dengan rambut saya), lalu cara berjalan saya yang agak tergesa-gesa, bahasa Indonesia saya yang sering saya campur adukkan dengan bahasa jalanan (semisal; “gue”, “elu”, “disono”; belum lagi pemenggalan bahasa seperti: “memang” menjadi “emang”, “sampai” menjadi “nyampe”, dan sekitar 700 kata bahasa Indonesia lain yang sering saya selewengkan). Setiap kali Ayah memperbaiki hal salah yang saya lakukan, dia akan mengatakan: “boru raja tidak akan berbicara seperti itu”, “boru raja tidak akan bertindak seperti itu”, “berlakulah seperti boru raja”, dan sebagainya. Frasa “boru raja” itu, ribuan kali saya dengar, sampai-sampai saya pikir kami ini keturunan raja-raja. Ternyata bukan.

Memasuki masa remaja dan pemudi, ayah saya juga memberikan filosofi menjadi “boru raja” dalam menyikapi keremajaan anak-anak perempuannya dalam hal berpacaran dan menghadapi lelaki. Dalam keseharian, sambil bercanda atau diskusi serius, ia bahkan dengan detail memberikan standard “boru raja” dalam bergaul dan memilih lelaki. (Goodness! Mungkin saja itu penyebab saya tidak menikah sampai hari ini, karena saya mungkin masih mencari calon “Raja” yang terekam dalam computer brain saya).

Konsep “boru raja” dikenal dalam setiap keluarga Batak. Sering muncul dalam percakapan sehari-hari dan di acara-acara adat. Kata "raja"  itu sering didengungkan di telinga orang batak. Orang batak urban sering menganggap filosofi-filosofi kuno batak adalah produk kolot generasi lama dan meremehkannnya. “Raja” dalam filosofi batak, seperti yang yang saya sudah jelaskan dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya, berarti “yang dihormati”. "Raja do ompung nami" ("kakek kami adalah raja"), artinya, kakek kami adalah orang yang terpandang atau dihormati.  Keluarga batak dari pihak perempuan yang disebut hula-hula pun sering disimbolkan sebagai “Raja”. Simbol Raja bermakna “penghormatan”. Istri seorang lelaki batak sering dikatakan sebagai “boru ni raja” atau “putri si raja”. Posisi “Tulang” (saudara lelaki ibu saya), adalah Raja bagi semua kemenakannya.

Praktis, sebutan “boru raja” adalah sebuah konsep “kehormatan” dan “penghormatan” untuk perempuan batak yang dimulai sejak ia lahir. “Kehormatan” dan “penghormatan” ini meliputi banyak aspek seperti; kepatutan, moral, etika, sensitivitas, dignity, pride, wisdom, tradisi dan adat istiadat, dsb. Siapapun dia, apakah dia seorang perempuan istri Jendral, putri seorang pengusaha atau inang-inang pedagang ikan teri di pasar Senen,mereka  lahir didalam konsep “boru raja”.

Banyak keluarga batak mungkin tidak pernah menerjemahkan konsep “boru raja” ini kepada turun-temurunnya seperti  cara ayah saya; the way my father did it. Tetapi dari banyak personal research yang saya lakukan, dari kampung miskin di Lontung, Samosir yang kerap kali saya kunjungi, hingga Singapore dan New York City tempat saya pernah belajar sesaat dan yang juga sering saya kunjungi dimana banyak orang batak yang saya kenal tinggal, mereka semua mengenal konsep “boru raja” yang sering didengungkan oleh ayah-ayah mereka.

RachNasution, sahabat saya yang sangat New Yorker itu dengan berseloroh pernah mengatakan: “boru raja enggak boleh ngemis-ngemis cinta”, ketika kami berdiskusi mengenai hubungan cintanya yang putus dengan seorang pemuda yang saya kenal. Itu mungkin hanya sebuah ungkapan dari sahabat saya Rachel yang meletakkan konsep “boru raja” dalam menggambarkan pride (seringkali disalah artikan sebagai keangkuhan atau gengsi).

Dalam situasi bergurau yang lain ketika seorang sahabat bertanya tentang kedekatan saya dengan seorang teman lelaki yang sudah menikah yang sering berdiskusi dan berkomunikasi dengan saya lewat sms, dengan cepat saya mengatakan: “hush! Boru Raja tidak akan pernah involved dengan married man manapun!”. Artinya, konsep “boru raja” yang saya anut itu dapat saya pastikan akan menghalangi saya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang keluar dari nilai-nilai kepatutan, etika, norma, dignity, pride, seperti terlibat affair dengan seorang lelaki yang sudah menikah misalnya, dalam konteks di atas.

Konsep “Raja” memiliki makna yang sangat luas; memasuki teritori adat, darah dan keseharian keluarga batak. Pertengkaran-pertengkaran di kalangan keluarga batak sering disudahi dengan kalimat “Raja do hita” atau terjemahannya adalah “kita adalah raja”. Artinya, kita tidak akan merendahkan diri kita untuk mempertengkarkan hal itu, karena seorang Raja tidak akan merendahkan martabatnya dengan pertengkaran-pertengaran, perkelahian dsb. Hebat kan konsep “ke-Raja-an” dalam filosofi batak itu? Walaupun dalam prakteknya hal itu lah yang paling susah dilakukan oleh orang batak, mengingat karakter banyak orang batak yang temperamental. Mungkin konsep itu dibuat oleh opung-opung jaman dulu untuk mengatasi karakter “keras” orang batak. Apapun itu, betapapun sulitnya mengimplementasikannya, makna konsep "raja" itu luar biasa.

Inti dari konsep “boru raja” dalam filosofi batak mengajarkan setiap perempuan batak untuk memahami nilai-nilai “kehormatan” dan “priyayi”, kata yang dipakai oleh masyarakat jawa untuk menggambarkan konsep yang sama yang diambil dari kasta tertinggi orang jawa yang berasal dari kalangan bangsawan atau darah biru. Konsep “boru raja” juga sama dengan keadaan yang digambarkan dalam dongeng anak-anak asal Eropah, karya HC Andersen, yang saya gambarkan di paragraf pertama tulisan ini.

Keningratan bukan semata sebuah lambang “kasta” belaka, tetapi sebuah simbol kepatutan yang menjadi ukuran-ukuran tidak tertulis dalam kehidupan sehari-hari. Saya pribadi berterima kasih pada ayah saya yang selalu mengajarkan saya dengan konsep itu sejak saya kecil dan sedikit banyak membentuk saya yang sekarang, walaupun ketika itu saya begitu membenci konsep yang saya gambarkan sebagai konsep kesombongan perempuan batak itu. Memang tidak akan saya telan mentah-mentah begitu saja, tetapi entah mengapa, setelah dewasa, setelah saya mengerti maknanya, saya mengagumi konsep itu dengan segala kelemahannya.

Penulis : Tika Sinaga

Ditemukan kembali di website Silaban Brothers. Thank you Silaban Brothers, for keeping all my writing notes! Terima Kasih, Silaban Brothers!