“Jangan sembarang ngomong kau!,” kata Hotman Paris dengan nada berteriak mendengar sindiran-sindiran yang diberikan Ruhut padanya.
“Eh Diam kau!”, kata Ruhut juga dengan nada teriak.
“Kau yang diam, anak dan istrimu gak kau urus”, sambung Hotman Paris dengan setengah berdiri.
“Eh, kau saja diam, sudah putus sama Meriam belina, patah hati kau yah, gak malu kau, bawa-bawa Meriam Belina “, Kata Ruhut tidak mau kalah.
“Ayo ketemu diluar saja, kau dan saya”, kata Hotman menantang.
“Aku 30 tahun jadi lawyer”, kata Ruhut.
“Masak? Kantormu dimana, kok gak ada klienmu”, jawab Hotman.
Itu kira-kira sebagian pertengkaran terbuka yang saya tangkap dalam live show di TV One, Indonesian Lawyers Club, Selasa 13 Maret lalu. Salah satu resiko live show memang ketiadaan sensor. Apa yang sudah terjadi tidak dapat diperbaiki. Sebelum acara itu kedua pesohor ini memang sudah sering saling tuding, saling sindir, saling ejek, saling maki di arena publik. Kalau mereka berantem kelihatannya rating sebuah acara malah naik. Kita bisa terkekeh-kekeh menontonnya. Apalagi kalau anda orang batak, anda bisa merasakan “sense” lucunya. Misalnya, ketika salah seorang dari mereka meng-claim dirinya sebagai keturunan raja. Itu luar biasa lucu, karna itu bisa membuat orang non batak berpikir "raja" yang dimaksud adalah raja yang memiliki wilayah kekuasaan seperti sultan keraton Jogja.
Frasa-frasa sarkastik tentang karakter “parbada” itu sebenarnya menunjukkan bahwa orang batak ingin keluar dari stereotip negatif tersebut. Kadang keinginan keluar dari stereotip itu, bagian terburuknya adalah ketika seorang batak memilih meninggalkan “atribut” atau identitas “ke-batak-an”nya. Orang-orang seperti ini juga ditertawakan orang batak lain dengan gambaran lucu: “sudah tidak kentara lagi bataknya, sampai tidak ngaku batak lagi dia! Sudah dirasakannya rupanya mandi dengan air PAM” (kalimat sinis ini harus diucapkan dengan logat batak kental baru lucu). Banyak orang batak sering khawatir terasosiasi dengan karakter “parbada” itu. Bahkan saya tahu ada orang batak, yang ingin mengganti namanya karna terdengar sangat batak. Ada-ada saja.
Saya mungkin keliru, tapi belum pernah saya melihat pesohor dari suku lain mempertontonkan live pertunjukan pertengkaran sebrutal itu di acara TV yang konon ratingnya sangat tinggi itu. Saat acara masih berlangsung, saya dihujani BBM oleh teman-teman saya: “Woi liat sodara lu tuh 2 batak si hotman sama ruhut lagi ribut di TVONE”; ada lagi yang berkata: “gile dah saudara lo tuh gak tau malu, orang kaya kok kayak orang kampung berantem di TV ONE!”. Mengapa teman-teman saya dari suku lain menyebut mereka saudara saya, walaupun saya secara pribadi tidak mengenal keduanya? Tentu karena banyak orang mengerti bahwa sistem kekerabatan orang batak yang luar biasa kental dan erat itu biasanya membuat orang batak tidak ribut secara terbuka, brutal, membuka aib-aib mereka. Orang batak memang sering dianggap berani berantem, tetapi ikatan "abstrak" rasa hormat diantara marga-marga dan klan biasanya mampu menghalangi sebuah keributan brutal. Apalagi, kedua abang itu (konon) mewakili sosok "orang batak urban yang modern, intelek, educated dan kaya".
Sistem kekerabatan orang batak yang erat dapat saya gambarkan dengan beberapa contoh berikut. Ketika saya kuliah 24 tahun yang lalu, segerombolan penodong di Grogol, membatalkan niat mereka, hanya karena ketika salah satu penodong meminta tas dan jam saya dengan gertakan, saya mengenali wajah batak dan logat batak si penggertak dan saya spontan membentak keempat penodong itu dengan mengatakan; “bang, aku ni boru sinaga tahu!!”. Cerita lain, beberapa tahun yang silam ketika saya di New York City, saya bertemu dengan seorang pengemudi Taxi yang sedang saya tumpangi, yang ternyata orang batak, hanya dengan berawal dari pertanyaan, “where do you come from miss?” dan saya mengenali tone batak di bahasa Inggrisnya yang cukup bagus itu. Kontan saja selama di New York orang itu lah yang saya minta bantuan macam-macam. Orang batak akan spontan menghubung-hubungkan persaudaraan mereka dari nenek moyang mereka, jika bertemu orang batak yang baru dikenalnya. Itu lah keunikan sistem kekerabatan orang batak dan banyak orang batak masih membanggakannya.
Beberapa tahun lalu saya menulis tentang bagaimana orang batak sering terperangkap dalam satu stereotip tertentu, sehingga generalisir tentang karakter orang batak terbentuk dalam suatu konotasi negatif yang membuat generasi muda orang batak sering menyembunyikan identitas batak mereka. Stereotip negatif itu juga membuat kaum muda batak malu menampilkan marga mereka. Tulisan saya itu berjudul: “Jika Anda Orang Batak Katakan Pada Anak-Anak Anda Dia Orang Batak", http://tika-sinaga.blogspot.com/2012/01/jika-anda-orang-batak-katakan-pada-anak.html
Saya katakan dalam tulisan itu, “Menjadi orang Batak berarti terperangkap dalam konotasi negatif stereotype yang terbentuk lewat penggambaran karakter yang kasar, keras, tempered, agresif, tukang-berantem, nyali preman, gaya bicara teriak-teriak, volume suara keras, belum lagi stereotype fisik rahang bersegi, mata tajam, tubuh lebih sering tebal dan profesi yang dihubungkan dengan pencopet, supir metromini ugal-ugalan, preman, petinju kasar, pecatur suntuk, inang-inang pedagang Pasar Inpres Senen, atau penyelundup Tanjung Periuk”.
Kalau anda baca tulisan saya itu, anda pasti menangkap kerinduan saya untuk mengembalikan lagi rasa bangga orang batak lewat anak-anak mereka, generasi-generasi baru orang batak dan menghilangkan stereotip negatif karakter orang batak yang sudah begitu menempel pada orang batak selama beratus tahun. Tulisan itu sudah dibaca oleh ribuan orang dan terforward di puluhan mungkin ratusan situs dan saya telah menerima ratusan email (sampai hari ini) dari orang-orang batak di seluruh dunia yang ternyata memiliki pemikiran yang sama mengenai stereotip karakter itu.
Bang Hotman Paris Hutapea dan Bang Ruhut Sitompul, sama seperti saya dan banyak orang batak, tahu betul bahwa kami bertanggung jawab menjaga citra baik orang batak dan menghilangkan stereotipe negatif karakter orang batak sebagai “PARBADA” itu.
=================================
Referensi konsep raja di etnis batak;
1. http://tika-sinaga.blogspot.com/2007/01/di-kerajaan-batak-banyak-taik-kerbau.html
2. http://tika-sinaga.blogspot.com/2009/01/boru-raja-sebuah-konsep-priyayi.html
“Eh Diam kau!”, kata Ruhut juga dengan nada teriak.
“Kau yang diam, anak dan istrimu gak kau urus”, sambung Hotman Paris dengan setengah berdiri.
“Eh, kau saja diam, sudah putus sama Meriam belina, patah hati kau yah, gak malu kau, bawa-bawa Meriam Belina “, Kata Ruhut tidak mau kalah.
“Ayo ketemu diluar saja, kau dan saya”, kata Hotman menantang.
“Aku 30 tahun jadi lawyer”, kata Ruhut.
“Masak? Kantormu dimana, kok gak ada klienmu”, jawab Hotman.
Itu kira-kira sebagian pertengkaran terbuka yang saya tangkap dalam live show di TV One, Indonesian Lawyers Club, Selasa 13 Maret lalu. Salah satu resiko live show memang ketiadaan sensor. Apa yang sudah terjadi tidak dapat diperbaiki. Sebelum acara itu kedua pesohor ini memang sudah sering saling tuding, saling sindir, saling ejek, saling maki di arena publik. Kalau mereka berantem kelihatannya rating sebuah acara malah naik. Kita bisa terkekeh-kekeh menontonnya. Apalagi kalau anda orang batak, anda bisa merasakan “sense” lucunya. Misalnya, ketika salah seorang dari mereka meng-claim dirinya sebagai keturunan raja. Itu luar biasa lucu, karna itu bisa membuat orang non batak berpikir "raja" yang dimaksud adalah raja yang memiliki wilayah kekuasaan seperti sultan keraton Jogja.
Dalam bahasa batak, karakter kedua abang Lawyer pesohor itu digambarkan orang batak sebagai “PARBADA”; kira-kira artinya “si tukang berantem”, atau “si pembuat keributan”. Biasanya orang batak sering menggambarkan orang yang tidak bisa ditengahi keributannya, atau orang yang selalu cari keributan dengan kalimat sarkastik seperti: “dasar parbada kau!” kira-kira artinya “dasar tukang berantem kau”. Keributan Hotman Paris dan Ruhut termasuk keributan konyol yang tidak dapat ditengahi, karena keduanya kelihatannya tidak malu-malu lagi ribut dimuka umum. Orang batak sendiri (minimum kata ibu saya yang mewakili generasi opung-opung) menganggap bahwa orang-orang yang ribut seperti itu biasanya hanya dilakukan oleh kaum mamak-mamak yang oleh orang batak urban sering digambarkan dengan kalimat sinis: “seperti inang-inang pasar inpres”. Itu sindiran untuk menggambarkan kekasaran, keberanian, histerikal, tidak berpendidikan cukup dan kelas (baca: kasta) pedagang.
Frasa-frasa sarkastik tentang karakter “parbada” itu sebenarnya menunjukkan bahwa orang batak ingin keluar dari stereotip negatif tersebut. Kadang keinginan keluar dari stereotip itu, bagian terburuknya adalah ketika seorang batak memilih meninggalkan “atribut” atau identitas “ke-batak-an”nya. Orang-orang seperti ini juga ditertawakan orang batak lain dengan gambaran lucu: “sudah tidak kentara lagi bataknya, sampai tidak ngaku batak lagi dia! Sudah dirasakannya rupanya mandi dengan air PAM” (kalimat sinis ini harus diucapkan dengan logat batak kental baru lucu). Banyak orang batak sering khawatir terasosiasi dengan karakter “parbada” itu. Bahkan saya tahu ada orang batak, yang ingin mengganti namanya karna terdengar sangat batak. Ada-ada saja.
Saya mungkin keliru, tapi belum pernah saya melihat pesohor dari suku lain mempertontonkan live pertunjukan pertengkaran sebrutal itu di acara TV yang konon ratingnya sangat tinggi itu. Saat acara masih berlangsung, saya dihujani BBM oleh teman-teman saya: “Woi liat sodara lu tuh 2 batak si hotman sama ruhut lagi ribut di TVONE”; ada lagi yang berkata: “gile dah saudara lo tuh gak tau malu, orang kaya kok kayak orang kampung berantem di TV ONE!”. Mengapa teman-teman saya dari suku lain menyebut mereka saudara saya, walaupun saya secara pribadi tidak mengenal keduanya? Tentu karena banyak orang mengerti bahwa sistem kekerabatan orang batak yang luar biasa kental dan erat itu biasanya membuat orang batak tidak ribut secara terbuka, brutal, membuka aib-aib mereka. Orang batak memang sering dianggap berani berantem, tetapi ikatan "abstrak" rasa hormat diantara marga-marga dan klan biasanya mampu menghalangi sebuah keributan brutal. Apalagi, kedua abang itu (konon) mewakili sosok "orang batak urban yang modern, intelek, educated dan kaya".
Sistem kekerabatan orang batak yang erat dapat saya gambarkan dengan beberapa contoh berikut. Ketika saya kuliah 24 tahun yang lalu, segerombolan penodong di Grogol, membatalkan niat mereka, hanya karena ketika salah satu penodong meminta tas dan jam saya dengan gertakan, saya mengenali wajah batak dan logat batak si penggertak dan saya spontan membentak keempat penodong itu dengan mengatakan; “bang, aku ni boru sinaga tahu!!”. Cerita lain, beberapa tahun yang silam ketika saya di New York City, saya bertemu dengan seorang pengemudi Taxi yang sedang saya tumpangi, yang ternyata orang batak, hanya dengan berawal dari pertanyaan, “where do you come from miss?” dan saya mengenali tone batak di bahasa Inggrisnya yang cukup bagus itu. Kontan saja selama di New York orang itu lah yang saya minta bantuan macam-macam. Orang batak akan spontan menghubung-hubungkan persaudaraan mereka dari nenek moyang mereka, jika bertemu orang batak yang baru dikenalnya. Itu lah keunikan sistem kekerabatan orang batak dan banyak orang batak masih membanggakannya.
Beberapa tahun lalu saya menulis tentang bagaimana orang batak sering terperangkap dalam satu stereotip tertentu, sehingga generalisir tentang karakter orang batak terbentuk dalam suatu konotasi negatif yang membuat generasi muda orang batak sering menyembunyikan identitas batak mereka. Stereotip negatif itu juga membuat kaum muda batak malu menampilkan marga mereka. Tulisan saya itu berjudul: “Jika Anda Orang Batak Katakan Pada Anak-Anak Anda Dia Orang Batak", http://tika-sinaga.blogspot.com/2012/01/jika-anda-orang-batak-katakan-pada-anak.html
Saya katakan dalam tulisan itu, “Menjadi orang Batak berarti terperangkap dalam konotasi negatif stereotype yang terbentuk lewat penggambaran karakter yang kasar, keras, tempered, agresif, tukang-berantem, nyali preman, gaya bicara teriak-teriak, volume suara keras, belum lagi stereotype fisik rahang bersegi, mata tajam, tubuh lebih sering tebal dan profesi yang dihubungkan dengan pencopet, supir metromini ugal-ugalan, preman, petinju kasar, pecatur suntuk, inang-inang pedagang Pasar Inpres Senen, atau penyelundup Tanjung Periuk”.
Kalau anda baca tulisan saya itu, anda pasti menangkap kerinduan saya untuk mengembalikan lagi rasa bangga orang batak lewat anak-anak mereka, generasi-generasi baru orang batak dan menghilangkan stereotip negatif karakter orang batak yang sudah begitu menempel pada orang batak selama beratus tahun. Tulisan itu sudah dibaca oleh ribuan orang dan terforward di puluhan mungkin ratusan situs dan saya telah menerima ratusan email (sampai hari ini) dari orang-orang batak di seluruh dunia yang ternyata memiliki pemikiran yang sama mengenai stereotip karakter itu.
Bang Hotman Paris Hutapea dan Bang Ruhut Sitompul, sama seperti saya dan banyak orang batak, tahu betul bahwa kami bertanggung jawab menjaga citra baik orang batak dan menghilangkan stereotipe negatif karakter orang batak sebagai “PARBADA” itu.
=================================
Referensi konsep raja di etnis batak;
1. http://tika-sinaga.blogspot.com/2007/01/di-kerajaan-batak-banyak-taik-kerbau.html
2. http://tika-sinaga.blogspot.com/2009/01/boru-raja-sebuah-konsep-priyayi.html



