Friday, October 6, 2006

Jika Anda Orang batak, Katakan Pada Anak-anak Anda Mereka Orang Batak

Children should be encouraged to take pride in their ethnic heritage, thereby boosting self-esteem.” (DeHart, Sroufe, & Cooper, Child development: Its nature and course. Boston: McGraw Hill, 2000). “Anak-anak harus didorong untuk bangga pada asal-usul etnis mereka sehingga mampu mendongkrak rasa bangga dan penghargaan terhadap diri mereka sendiri

Weekend lalu saya diperkenalkan si Bungsu adik saya pada teman barunya. Si Bungsu ini “anak gaul”, temannya banyak, sehingga kerap kali ia membawa teman baru ke rumah. Biasanya si Bungsu akan memperkenalkan nama temannya dan saya akan melanjutkannya dengan pertanyaan-pertanyaan standard seperti “tinggal dimana”, “sekolah dimana”, “kenal si bungsu dimana?”, “ayah ibu kerja dimana” dll. Kadang pertanyaan-pertanyaan itu saya akhiri dengan pertanyaan dari mana dia berasal. Teman baru si Bungsu yang usianya tidak lebih dari 20-21 tahun ini misalnya, karena wajahnya yang Ganteng, bulu matanya luar biasa bagus, kulit bersih dan tubuh atletis, saya jadi ingin tahu dari mana dia berasal.

Kamu orang apa sih, Dek?”, tanya saya ingin tahu.

Orang Jakarta, Kak”, katanya.

Kita semua orang Jakarta karena kita tinggal atau lahir di Jakarta. Maksud Kakak, kamu berasal dari suku apa”, lanjut saya.

ohhhh”, katanya seolah baru sadar salah menjawab. Saya yakin dia sebenarnya mengerti maksud saya. “Orang Sumatra, Kak”, jawab si ganteng. Saya mulai agak hilang kesabaran.

Dek, kamu tidak belajar pengantar Antropologi waktu semester satu yah? Kan Sumatra itu bukan suku bangsa, jadi enggak ada istilah saya orang Sumatra. Kok susah amat kau menjawab pertanyaan Kakak? Kamu nih ganteng dan oon yah”, lanjut saya. Si Ganteng tertawa.

Orang Medan deh, Kak”, ralatnya, gelisah. Mukanya agak bingung atau pura-pura bingung.

Si Bungsu yang tahu betul maksud saya langsung menimpali dengan wajah tidak sabar: “Lu ngomong sama Kakak gue yang bener, bilang aja lo orang Batak gitu, susah amat sih guoblog lo…. Dia ini Siregar, Kak, gak ngaku Batak! Ibunya Batak, juga, Simanjuntak.” “Waktu ketemu pertama kali juga ‘gitu’ Kak, bertele-tele waktu ditanya orang apa”, lanjut si Bungsu. “Mandi masih pake air asin, tinggal di gang sempit aja udah gak ngaku orang Batak lu..!”, lanjut si Bungsu berseloroh. Mereka tertawa terbahak. Semoga si Ganteng belajar sedikit hari itu mengenai siapa dia.

Saya bangga pada si Bungsu karena diusianya yang muda ia tidak pernah ragu mengatakan “Saya orang Batak”. Si Bungsu adalah tipikal remaja metropolitan “produk MTV” yang selalu kami khawatirkan agak menganut faham hedonis dan sangat ter-westernisasi. Sejak usia 5 tahun dia sudah ‘ngerti’ apa itu “luar negri”.

Saya juga bangga pada ayah saya yang sebagian hidupnya dihabiskan di Semarang, dan sampai akhir hidupnya selalu membaca karya-karya sastra cukup tinggi dari Rendra, Sapardi Joko Damono, hingga Ernest Hemingway itu, tetapi ia tetap mengajarkan anak-anaknya untuk bangga pada asal-usul kami. “Never be ashamed to tell people who you are. You are orang Batak”, demikian ayah saya yang berbahasa Inggris, Belanda dan Jawa itu selalu mengatakan.

Pengajaran ayah saya itu menanamkan concious saya untuk tidak pernah ragu mengatakan “saya orang Batak” ketika asal-usul saya ditanyakan dimanapun saya berada, di Danau Toba yang keras, di Yogja yang lunak maupun di Paris, London atau New York yang sophisticated, ketika saya bertemu dengan orang Indonesia disana. Bahkan ketika saya sudah menyebut diri saya sebagai  “a global citizen”. “Saya Orang Batak”. Clear! Tanpa embel-embel “tapi saya lama tinggal di Singapore”, atau “tapi saya sudah tidak bisa bahasa Batak”, atau “ tetapi saya lahir di Jakarta” atau “tapi saya orang Mandailing”. Kata “tetapi” itu adalah satu dari seribu excuses yang dipakai oleh banyak orang Batak untuk mengatakan bahwa ia berbeda dari stereotype orang Batak yang terbentuk di masyarakat. Kira-kira artinya adalah, saya memang orang batak, “tetapi saya sudah berbudaya", "sudah tidak ‘barbaric’".  Saya sudah tidak makan orang lagi!”.

Menjadi orang Batak berarti terperangkap dalam konotasi negatif stereotype yang terbentuk lewat penggambaran karakter yang kasar, keras, tempered, agresif, tukang-berantem, nyali preman, gaya bicara teriak-teriak, volume suara keras, belum lagi stereotype fisik rahang bersegi, mata tajam, tubuh lebih sering tebal dan profesi yang dihubungkan dengan pencopet, supir metromini ugal-ugalan, preman, petinju kasar, pecatur suntuk, inang-inang pedagang Pasar Inpres Senen, atau penyelundup Tanjung Periuk.

Konotasi negatif inilah yang sering kali membuat banyak keluarga Batak tanpa sengaja tidak menanamkan “rasa bangga” akan asal-usul mereka pada anak-anak mereka seperti si Ganteng teman adik saya tadi, yang jelas sekali sangat berat mengatakan “saya orang Batak”, dan berkilah mengatakan dirinya “Orang Jakarta”, “orang Sumatra” dan “orang Medan”. Konotasi negatif itu juga sering membuat Orang Batak bangga jika dikatakan “tidak kelihatan Batak”, “tidak kentara Bataknya”, apa lagi kalau sudah agak “kaya” sedikit atau kenal luar negeri, sudah tidak mau terafiliasi dengan apapun yang berbau Batak. Kalau bisa jangan ‘ngaku’ orang batak. Seorang artis berdarah batak malah mendapatkan nama ”Cut “ dari ayahnya untuk menggelapkan asal-usulnya. Menyedihkan!

Konotasi negatif di atas tidak akan pernah hilang jika setiap keluarga Batak memilih untuk menanggalkan identitas anak-anak mereka, menghilangkan marga mereka dari nama-nama mereka, “menggelapkan” asal-usul mereka dengan istilah “orang Medan”, “orang Sumatra” atau “orang Jakarta” (dia pikir cuma dia yang lahir di Jakarta), serta tidak memberikan pengajaran betapa pentingnya mengenal akar dan asal-usul budaya sendiri sebelum mampu mengenal dan mencintai budaya-budaya lain, bahkan sebelum mampu menikmati Beethoven Symphony No 9. Jadi jangan bilang anda penikmat budaya jika asal-usul suku bangsa andapun tidak anda akui.
Menanamkan kebanggaan atas asal-usul pada anak-anak kita itu bukan untuk tujuan pengkultusan superioritas kesukuan atau ethnocentrism, akan tetapi penghargaan terhadap budaya, etnik, identitas dan asal-usul itu. Kebanggaan dan penghargaan itu akan memberikan “sense of belonging” atas kelanjutan sebuah nilai budaya yang menjadi pondasi untuk membangun diri sendiri. Kelak tentunya membangun lingkungan dimana dia berada.
Red Wolf seorang pejuang dan budayawan Indian, Native American dalam beberapa bukunya mengatakan: “The Native Indian passed their culture and tradition down from generation to generation from memory, not from a notepad or book. Therefore, if your Mother, Grandmother, Father or Grandfather told you or your family that you are of Indian blood, you are Indian”. Saya terpesona dengan tulisannya itu. Katanya: “ Orang Indian mewariskan budaya dan tradisi mereka dari generasi ke generasi lewat ingatan, bukan lewat catatan dan buku, jadi jika ibu, nenek, ayah atau kakekmu mengatakan bahwa engkau berdarah Indian, maka engkau adalah Indian”.

Saya implementasikan dengan bebas kalimat di atas ke dalam tulisan saya ini sebagai: “Jika engkau orang Batak, katakan pada anak-anakmu bahwa mereka adalah orang Batak”.

Penulis : Tika Sinaga

Thursday, August 10, 2006

Ambisi, Obsesi, Impian: Keliru Budaya Atau Keliru Bahasa?

Orang Indonesia pada umumnya paling alergi jika ditanyakan mengenai ambisi mereka. Ketika  saya bertanya kepada 2 orang mahasiswa yang juga Entrepreneur UKM, apa ambisi mereka atas perusahaan yang mereka miliki dalam 5 tahun mendatang. “Boro-boro ambisi, bu, bayar karyawan saja masih berdarah-darah”, jawab salah seorang diantaranya sambil tertawa-tawa, menghindari keseriusan dalam menjawab pertanyaaan saya. Yang kedua malah hanya menyeringai, lelet berpikir.

8 dari 10 kandidat Manager yang pernah saya interview dalam proses rekrutmen selalu gelagapan jika saya tanyakan apa ambisi pribadi mereka dalam 5 tahun mendatang. Apalagi jika bahasa Inggris mereka amburadul, lebih double lah enggak mudengnya akan makna kata “ambisi” yang berasal dari bahasa Inggris “ambition” itu. Biasanya mereka akan menjawab sambil cengengesan: “Saya tidak punya ambisi yang muluk-muluk, jadi go with the flow saja”. Rasanya kepingin saya jewer kupingnya. Terasa sekali resistensi atas pertanyaan itu. Jika si kandidat kelihatan cerdas dan asertif, saya dengan suka rela akan menerangkan makna kata “ambisi” dan mengkuliahinya sedikit dengan encouragement bahwa setiap orang apalagi seorang manager profesional harus punya komponen ambisi dalam otak mereka. Kalau kandidat yang saya interview kelihatannya klemar-klemer, biasanya langsung saya eliminir saja dari list interview saya. Klemar-klemer dan tidak punya ambisi adalah sebuah kombinasi yang teramat buruk bagi seorang manager profesional.

Kata “ambisi” telanjur berkonotasi negatif atau lebih sering dipakai untuk menggambarkan situasi yang negatif dan sarkastik sebagi pengejaran atas kemahsyuran,  kekuasaan serta pencapaian tertentu. Entah “keliru Budaya” atau “keliru Bahasa” kah ini namanya? Keliru Budaya disini saya artikan sebagai terkukungnya kita dalam budaya “being humble” yang sempit, yang lebih dekat pada faham “kacungisme”; artinya menjadi asertif atau mengungkapkan ambisi-ambisi pribadi secara terbuka adalah hal yang tabu dan "tidak timur”. Keliru Bahasa saya artikan sebagai ke-salah-kaprah-an dalam menggunakan atau mengartikan sebuah makna kata yang nota bene berasal dari bahasa asing. 

Jadi, bolehkah dikatakan si Ahmad yang Office Boy itu berambisi menjadi supervisor OB, yang artinya bercita-cita mencapai “level of fame and power” sebagai Supervisor OB bahkan mungkin Manager House Keeping sebuah Hotel berbintang 5? 

Anehnya, orang Indonesia senang sekali dengan kata “Obsesi”. Sesekali coba anda lihat di TV khususnya infotainment. Media infotainment yang sering memulai keliru budaya dan bahasa, dengan ringan bertanya pada seorang artis muda berusia 16 tahun: “Obsesi apa yang ingin anda capai dalam 5 tahun ke depan?”. Si Artis pasti akan dengan lancar menjawab pertanyaan itu, “Saya kepingin umroh, kepingin kawin muda, kepingin main layar lebar” dsb. Orang Indonesia lebih nyaman dengan kata obsesi dari pada ambisi.

Let’s just open The Webster’s Dictionary

Definisi “ambition” atau "ambisi' menurut Webster:
  • A goal or objective that somebody is trying to achieve (Arah atau tujuan tertentu yang seseorang sedang coba capai)
  • A desire for success: a strong feeling of wanting to be successful in life and achieve great thing (Keinginan yang kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan mencapai hal-hal besar atau baik yang diinginkan)
  • Desire for exertion or activity; energy: (Keinginan yang kuat untuk melakukan aktivitas tertentu, semisal: Ambisi untuk diet, mendaki Himalaya, atau kembali kuliah)
  • An eager or strong desire to achieve something, such as fame or power.(Keinginan atau hasrat yang kuat untuk mencapai tingkat kemahsyuran dan kekuasaan tertentu)
Definisi “obsession” atau "obsesi" menurut Webster;
  • Compulsive preoccupation with a fixed idea or an unwanted feeling or emotion, often accompanied by symptoms of anxiety. (Penguasaan pikiran yang didorong oleh perasaan dan emosi yang memaksa atas ide/keinginan tertentu yang sering kali disertai dengan tanda-tanda kecemasan)
  • A compulsive, often unreasonable idea or emotion.(Hasrat /keinginan/ dorongan yang memaksa, kerap kali dengan keinginan atau emosi yang tidak beralasan)
  • An unwelcome, uncontrollable, and persistent idea, thought, image, or emotion that a person cannot help thinking even though it creates significant distress or anxiety. (Keinginan/ide/pikiran/bayangan/emosi yang tidak terkendali, sering datang dengan tidak dikehendaki atau mendesak masuk dalam pikiran seseorang yang mengakibatkan rasa tertekan dan cemas)
So, jika keinginan-keinginan anda masih berupa ide-ide yang mengawang-awang di kepala, berarti anda baru memiliki impian-impian

Jika anda melakukan perencanaan yang terstruktur atas impian-impian itu serta sedang berjalan memfokuskan energi dan pikiran anda untuk mencapainya, berarti anda sudah memiliki ambisi

Jika keinginan-keinginan atau impian-impian anda itu sudah mendominasi pikiran anda, sudah membuat tingkat emosional anda meluap-luap, sudah menguasai pikiran anda tanpa terkendalikan sampai anda kadang gugup memikirkannya, bahkan kadang dengan pengejaran membabi buta, berarti anda sudah terobsesi dengan keinginan-keinginan atau impian-impian itu. Disitu anda sudah berada di tahap memiliki obsesi.

Jadi, jangan takut dengan kata "ambisi", jangan pernah ragu menyusun dan mengungkapkan ambisi anda, dan sebaiknya hati-hati menggunakan kata “obsesi”. Salah-salah anda malah sedang memperlihatkan sisi gelap psikopat anda!